Melemahnya IHSG merupakan efek secara langsung dari tertekannya sejumlah saham Big Caps.
Berikut diantaranya berdasarkan data Bloomberg, Jumat (14/11/2025).
- Amman Mineral Internasional (AMMN) mengurangi 7,95 poin
- Barito Renewables Energy (BREN) mengurangi 6,17 poin
- Bumi Resources Minerals (BRMS) mengurangi 3,65 poin
- Maha Properti Indonesia (MPRO) mengurangi 2,4 poin
- Impack Pratama Industri (IMPC) mengurangi 2,24 poin
- Kalbe Farma (KLBF) mengurangi 2,11 poin
- Merdeka Battery Materials (MBMA) mengurangi 1,71 poin
- Chandra Daya Investasi (CDIA) mengurangi 1,6 poin
- Capital Financial Indonesia (CASA) mengurangi 1,42 poin
- Merdeka Copper Gold (MDKA) mengurangi 1,35 poin
Adapun saham–saham perindustrian lain juga jadi pendorong pelemahan IHSG, saham PT Tira Austenite Tbk (TIRA) anjlok 14,9%, saham PT Jembo Cable Company Tbk (JECC) terpeleset 13,4%, dan saham PT Nusatama Berkah Tbk (NTBK) juga melemah dengan kehilangan 6,84%.
Disusul oleh pelemahan saham kesehatan, saham PT Soho Global Health Tbk (SOHO) yang turun 9,81%, saham PT Murni Sadar Tbk (MTMH) melemah 2,95%, dan saham PT Mitra Keluarga Tbk (MIKA) yang mencetak pelemahan 2,7%.
Mengutip riset Phintraco Sekuritas, pelemahan IHSG terjadi pada penutupan perdagangan, setelah sebelumnya cenderung bergerak di teritori positif.
Rasanya pelemahan IHSG tersengat dan terseret dari apa yang terjadi di bursa saham Asia. Di samping itu, investor dalam negeri terlihat dalam mode wait and see mencermati data ekonomi yang bakal terbit pekan depan.
“Secara teknikal, histogram MACD masih positif namun momentum kenaikannya melambat dan berpotensi terjadi death cross. Stochastic RSI masih bergerak di area overbought. Volume jual masih mendominasi, yang diperkuat oleh garis A/D yang mengindikasikan adanya distribusi,” papar Phintraco dalam riset terbarunya, Jumat.
IHSG ditutup di bawah level MA–5. Sehingga diperkirakan dalam jangka pendek, IHSG masih berpotensi melemah menguji level 8.300-8.325. Namun dalam jangka menengah panjang, IHSG masih dalam kondisi bullish.
Adapun, keraguan pasar pada peluang pemangkasan suku bunga The Fed turut menambah sentimen negatif.
“Optimisme pembukaan kembali pemerintahan AS diredam oleh ketidakpastian suku bunga hingga valuasi saham teknologi AI yang sangat tinggi,” jelas riset Panin Sekuritas.
(fad/aji)





























