Firnandi menegaskan, kebijakan tidak lagi hanya berfokus pada jumlah wisatawan, melainkan pada kualitas kunjungan yang memberi dampak ekonomi lebih besar.
“Kita ingin pariwisata naik kelas, menarik wisatawan yang mau tinggal lebih lama dan membelanjakan lebih banyak di Indonesia,” katanya.
Dari sisi kinerja, pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara menunjukkan tren positif. Secara kumulatif, pertumbuhannya diproyeksikan mencapai 12% secara tahunan (year-on-year).
Hingga akhir 2025, Firnandi memperkirakan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara akan mencapai 15,7 juta orang, melampaui target semula yang ditetapkan sebesar 15 juta.
Adapun lima negara penyumbang wisatawan terbesar ke Indonesia masih didominasi oleh Malaysia, Singapura, Australia, China, dan India. Firnandi menilai posisi negara-negara tetangga tetap menjadi pasar strategis yang perlu terus diperkuat melalui promosi dan kerja sama lintas sektor.
Sementara itu, Bali masih menempati posisi teratas sebagai destinasi favorit wisatawan mancanegara.
Namun, pemerintah kini berupaya memperluas promosi agar wisatawan mengenal potensi daerah lain. “Kami ingin mengenalkan Indonesia bukan hanya Bali. Indonesia punya segalanya—dari keindahan alam hingga lebih dari 1.300 sub-etnis dengan budaya yang luar biasa,” jelasnya.
Firnandi optimistis tren positif ini akan berlanjut hingga 2026. Dengan fokus pada kualitas, keberlanjutan, dan pemerataan destinasi, Indonesia diharapkan mampu memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat pariwisata unggulan di kawasan Asia-Pasifik.
(dec)































