“Negara yang makin bagus, makin tinggi kesadaran lingkungan hidupnya. Di negara maju, masalah limbah itu penting. Kita kadang kurang peduli karena belum memahami dampaknya,” kata Benjamin.
Wamenkes mengakui, publik kerap baru bereaksi ketika insiden lingkungan sudah berdampak pada perdagangan atau hubungan internasional.
“Begitu Amerika bilang ‘nggak boleh kirim barang ke sini’, baru kita kaget. Padahal pengawasan harus dilakukan sejak awal,” ujarnya mencontohkan.
Kendati demikian, Benjamin meminta masyarakat untuk tidak panik secara berlebihan. Berdasarkan pemantauan awal, dosis radiasi yang terdeteksi pada kasus di Cikande tidak menimbulkan risiko akut terhadap kesehatan.
“Yang jelas dosis yang ada belum menyebabkan nyawa melayang. Kalau dosisnya berbahaya, pasti sudah ada korban,” tegasnya.
Namun ia menekankan, tidak berarti situasi ini boleh diabaikan. Paparan radiasi, meskipun kecil, tetap perlu dicegah untuk melindungi kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.
"Berapapun dosisnya, harus dicegah. Jangan sampai 10–15 tahun lagi menimbulkan penyakit serius seperti kanker,” ujarnya.
Benjamin juga mengimbau media untuk memberitakan isu ini secara proporsional—tidak menakut-nakuti, tetapi tetap mencerdaskan publik.
“Tolong pemberitaan yang wajar, supaya rakyat cerdas dan tetap tenang. Karena yang penting sekarang adalah pencegahan,” tutupnya.
(dec/spt)































