"Sejatinya, investasi di IMIP terus berkembang signifikan, didorong oleh model integrasi dan nilai tambah tinggi."
Mengenai rencana investasi baru, kata dia, para investor yang masuk di kawasan IMIP cenderung bergerak di bidang telekomunikasi, workshop, dan investor yang fokus pada energi terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga surya.
Bagaimanapun, menurutnya, kebijakan ini tidak akan menjadi hambatan bagi IMIP, melainkan langkah strategis untuk mendalamkan hilirisasi, dari sekadar produksi produk antara (intermediate) seperti nickel pig iron (NPI) dan feronikel (FeNi), menuju produk hilir bernilai tambah tinggi seperti bahan baku baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).
“Kebijakan ini justru sejalan dengan visi jangka panjang IMIP yang telah kami rancang sejak awal. IMIP bukan sekadar kawasan smelter, tetapi ekosistem industri hilir yang terintegrasi,” ujarnya.
Dengan status IUI, kata Deddy, di antaranya seperti industri logam dasar besi dan baja. Fasilitas IMIP sudah berada dalam koridor yang tepat sebagai bagian dari sektor manufaktur, bukan tambang.
Di sisi lain, Deddy juga menjelaskan Kawasan Industri IMIP, saat ini telah memiliki tiga klaster industri, di antaranya klaster stainless steel, klaster carbon steel, dan klaster komponen baterai listrik.
Klaster stainless steel yakni pengolahan bijih nikel menjadi NPI hingga stainless steel. Klaster carbon steel merupakan klaster yang memproduksi baja karbon dengan kapasitas produksi hingga 7 juta metric ton per tahun.
Berikutnya ada klaster baterai kendaraan listrik yang dibangun untuk mendukung program energi bersih dan terbarukan yang digagas oleh pemerintah.
“Saat ini, beberapa proyek strategis di Kawasan IMIP sebagai upaya mendukung klaster EV telah masuk dalam tahap produksi yakni smelter yang memproduksi MHP [mixed hydroxide precipitate], nikel elektrolisis, dan nickel matte. Smelter-smelter ini yang kemudian menjadi smelter penunjang klaster electric vehicle,” tutur Deddy.
Tak hanya itu, lanjut Deddy, fasilitas pendukung lainnya seperti pembangkit listrik yang lebih ramah lingkungan saat ini dalam tahap kajian akademis. Penggunaan pembangkit listrik yang lebih ramah lingkungan sebagai upaya untuk meningkatkan porsi energi terbarukan di dalam kawasan IMIP.
Sebagai informasi, Kementerian Perindustrian mengonfirmasi telah memperketat penerbitan IUI smelter nikel standalone—atau yang tidak terintegrasi dengan tambang — baik jenis pirometalurgi maupun hidrometalurgi.
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Setia Diarta menjelaskan hilirisasi nikel di Indonesia didorong tidak lagi diolah hingga kelas dua yakni NPI, FeNi, nickel matte, MHP; melainkan pada produk yang lebih hilir seperti nickel electrolytic, nickel sulphate, dan nickel chloride.
Akan tetapi, Setia mengungkapkan Kemenperin masih memberikan kelonggaran bagi smelter nikel yang sudah memasuki tahap konstruksi dan berencana mengolah nikel menjadi produk antara atau intermediate.
“Sesuai RIPIN PP No. 14/2015, untuk target industri pengolahan dan pemurnian nikel tahun 2025—2035 bukan lagi pada nikel kelas 2,” kata Setia ketika dihubungi Bloomberg Technoz.
Di sisi lain, Setia menegaskan hal tersebut juga dipertegas dalam Peraturan Pemerintah No. 28/2025 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, yang diteken Prabowo pada 5 Juni tahun ini.
Dalam beleid tersebut dijelaskan bahwa pengajuan izin pembangunan smelter baru harus menyampaikan surat pernyataan tidak memproduksi NPI, FeNI dan nickel matte bagi pihak yang berencana membangun smelter nikel berbasis pirometalurgi.
Setia menyatakan nantinya Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) akan mengirimkan daftar smelter yang sedang dalam tahap konstruksi.
Setelah itu, lanjut dia, daftar tersebut akan disampaikan ke Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian)
Adapun, Kemenperin mencatat sampai dengan Maret 2024, Indonesia memiliki total 44 smelter nikel pemegang IUI yang beroperasi di bawah binaan Ditjen ILMATE. Lokasi terbanyak berada di Maluku Utara dengan kapasitas produksi 6,25 juta ton per tahun.
Jumlah tersebut belum termasuk 19 smelter nikel yang sedang dalam tahap konstruksi, serta 7 lainnya yang masih dalam tahap studi kelaikan atau feasibility studies (FS). Dengan demikian, total proyek smelter nikel pemegang IUI di Indonesia per Maret 2024 mencapai 70 proyek.
(mfd/wdh)





























