China kini berusaha menegaskan kembali dominasinya di kawasan yang selama ini dianggap sebagai “halaman belakangnya,” di mana AS telah lama memiliki pengaruh besar sejak berakhirnya Perang Dunia II. Di satu sisi, Beijing berusaha memanfaatkan kekacauan yang ditimbulkan oleh kebijakan perdagangan Trump serta ketidakpastian yang melanda sekutu-sekutu AS. Namun di sisi lain, langkah China juga terkadang justru merugikan posisinya sendiri, terutama dalam menghadapi kebijakan ekonomi Amerika.
Salah satu contohnya, China sempat membatasi ekspor logam tanah jarang sebagai bentuk balasan terhadap tarif impor AS. Langkah tersebut memang menyulitkan sejumlah perusahaan Amerika dan menyoroti kerentanan rantai pasok global, namun juga menimbulkan gangguan pada produksi di kawasan lain, termasuk Uni Eropa.
Kendati demikian, Campbell menilai China telah mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapi potensi tekanan ekonomi dari pemerintahan Trump yang baru. “Tak bisa disangkal, dalam konteks Permainan Besar, China telah membuat langkah-langkah penting dan memiliki sejumlah keunggulan,” ujarnya.
Campbell, yang sebelumnya juga menjabat sebagai Koordinator Dewan Keamanan Nasional AS untuk Indo-Pasifik di pemerintahan Presiden Joe Biden, menyampaikan pandangannya di sela-sela Konferensi UBS Australasia di Sydney.
(bbn)





























