Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas Rikky Rahmat Firdaus memastikan perusahaan Inggris, Harbour Energy, bakal hengkang dari blok kaya gas tersebut.
Sementara itu, entitas perusahaan migas Rusia, Zarubezhneft Asia Ltd (ZAL), bakal mengambil alih posisi operator blok.
“Secara normatif, hasil dari divestasi ini pada akhirnya akan menghadirkan pihak baru untuk menemani ZAL," kata Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas Rikky Rahmat Firdaus kepada Bloomberg Technoz, Rabu (29/10/2025).
Menurut Rikky, transaksi divestasi antar kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) itu mendekati rampung. Dia memperkirakan proses divestasi Harbour Energy selesai sekitar dua bulan mendatang.
"Kita tunggu saja prosesnya, karena ini merupakan proses B to B [bussines to bussines]," tuturnya.
Proyek yang berdekatan dengan Vietnam itu telah mendapat persetujuan rencana pengembangan atau plan of developement (PoD) sejak Desember 2022.
Ladang gas itu dikerjakan kongsi Zarubezhneft lewat anak usahanya ZAL bersama dengan entitas Harbour Energy di Indonesia, Premier Oil Tuna B.V.
Keduanya masing-masing memegang 50% hak partisipasi atau participating interest (PI), dengan Premier Oil sebagai operator blok.
Hanya saja, konsorsium Premier Oil dan Zarubezhneft Asia tidak kunjung meneken keputusan investasi akhir atau final investment decision (FID) hingga saat ini.
Alasannya, terdapat sanksi yang dikenakan kepada Zarubezhneft akibat invasi Rusia ke Ukraina sejak 2022.
Blok Tuna diestimasikan memiliki potensi gas di kisaran 100—150 million standard cubic feet per day (MMSCFD), menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Adapun, investasi pengembangan lapangan hingga tahap operasional ditaksir mencapai US$3,07 miliar.
(azr/wdh)































