Sanksi terbaru AS terhadap sektor ini, yang juga dijatuhkan pada raksasa minyak Rosneft PJSC dan Lukoil PJSC, telah mengurangi ekspor minyak mentah karena beberapa kilang di India, China, dan Turki enggan menerima minyak yang terkena sanksi.
Sementara itu, serangan Ukraina semakin intensif, memberikan tekanan pada sektor pengolahan minyak mentah Rusia, bahkan saat pemilik kilang bergegas memperbaiki infrastruktur.
Jika akhirnya tidak dapat menemukan pembeli minyak produsennya yang terkena sanksi dan kesulitan memulihkan pengolahan, Moskwa akan terpaksa menghentikan produksi di beberapa lapangan minyak, yang berisiko merusak sumur.
Kementerian Energi belum menjawab pertanyaan mengenai data produksi.
Bulan lalu, menurut kantor berita Tass, Wakil Perdana Menteri Alexander Novak mengatakan negara tersebut memiliki kapasitas untuk meningkatkan produksi minyak lebih lanjut, tetapi akan melakukannya secara bertahap.
Pemotongan Kompensasi
Rusia, yang secara historis merupakan salah satu negara yang paling lamban dalam mematuhi perjanjian produksi OPEC+, telah setuju untuk melakukan pemotongan tambahan sebagai kompensasi atas kelebihan produksi sebelumnya.
Jadwal bulanan untuk pemotongan tersebut telah direvisi secara berkala, di mana rencana terbaru diterbitkan awal bulan ini.
Data ini menunjukkan Oktober merupakan bulan terakhir Rusia harus melakukan pemangkasan tersebut. Janji Moskwa untuk mengurangi produksi harian sebesar 10.000 barel di bawah kuota 9,491 juta barel membuat level yang dibutuhkan menjadi 9,481 juta barel.
Produksi Oktober lebih mendekati target OPEC+ Rusia berdasarkan jadwal kompensasi sebelumnya, yang diterbitkan pada 1 Oktober meski telah diajukan ke sekretariat OPEC pada 7 September. Berdasarkan rencana tersebut, produksi harian Rusia yang diizinkan sebesar 9,457 juta barel, menurut perhitungan Bloomberg.
(bbn)






























