Permintaan
Terkait dengan permintaan, Wahyu memandang kebutuhan tembaga untuk sektor transisi energi—seperti kendaraan listrik dan infrastruktur energi terbarukan — akan menopang permintaan komoditas tersebut.
Akan tetapi, dia juga mewaspadai perlambatan aktivitas industri di beberapa negara, khususnya China yang dapat meredam permintaan.
Di sisi harga, Wahyu memprediksi tembaga pada tahun depan akan menguat, didukung oleh permintaan dari sektor energi terbarukan.
“Secara umum outlook tembaga masih lumayan bagus. Beberapa bank investasi aseperti Goldman Sachs dan UBS memiliki pandangan optimistis jangka panjang dengan target harga yang tinggi pada 2026,” ungkap Wahyu.
Meskipun begitu, dia menyatakan bahwa Bank Dunia memproyeksikan harga tembaga bisa turun hingga 9% pada 2026. Akan tetapi, harga tersebut masih lebih tinggi di atas rata-rata periode 2015—2019.
Harga tembaga mencapai rekor tertinggi di London Metal Exchange (LME), dengan prospek pelonggaran ketegangan Amerika Serikat (AS)-China yang segera terjadi menjadi katalis baru peningkatan reli harga, didorong oleh gangguan pasokan tambang dan gangguan perdagangan akibat tarif.
Hingga saat ini, harga logam yang menjadi bahan pokok industri dan indikator pertumbuhan global ini telah naik lebih dari seperempat, dan menuju tahun terbaiknya sejak 2017.
Tahun ini menjadi periode yang berguncang bagi harga tembaga, salah satu komoditas paling vital di dunia. Harga logam ini berfluktuasi tajam akibat perang dagang dan sanksi regional yang diberlakukan Trump, yang menyebabkan masuknya volume besar logam ke pasar AS.
Selain itu, sejumlah insiden di tambang besar, termasuk longsor di tambang Grasberg milik Freeport McMoRan Inc. di Indonesia, turut menambah tekanan pada pasokan global.
Dari sisi permintaan, optimisme meluas terkait peningkatan kebutuhan tembaga untuk mendukung transisi energi dan pembangunan pusat data dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Selain itu, China telah berjanji untuk secara signifikan meningkatkan porsi konsumsi domestik dalam struktur ekonominya.
Adapun, di LME pagi ini, tembaga diperdagangkan di harga US$10.682,50/ton atau menurun 0,14% dari penutupan kemarin.
Sebagai catatan, Pengajuan RKAB tambang periode 2026, dengan mengikuti skema 1 tahunan, berakhir pada 15 November setelah dimulai per 1 Oktober 2025.
Freeport sendiri sebelumnya menangguhkan operasi tambang emas dan tembaga Grasberg sejak insiden longsor di Grasberg Block Cave pada awal September. Operasional tambang bawah tanah GBC diperkirakan baru dapat pulih sepenuhnya pada 2027.
Dalam keterangan resminya, Freeport-McMoRan Inc. menyebut insiden longsoran lumpur bijih telah merusak sejumlah infrastruktur pendukung produksi di area GBC.
Akibatnya, PTFI terpaksa menunda kegiatan produksi dalam jangka pendek pada kuartal IV-2025 hingga sepanjang 2026 di area tambang tersebut.
Adapun, badan bijih GBC mewakili 50% dari cadangan terbukti dan terduga PTFI per 31 Desember 2024, serta sekitar 70% dari proyeksi produksi tembaga dan emas hingga 2029.
Dalam RKAB eksisting Freeport Indonesia, Kementerian ESDM menyetujui volume bijih yang ditambang Freeport sebanyak 212.000 ton per hari. Dalam bijih tersebut terdapat 1% kandungan tembaga dan 1 gram/ton emas.
Sementara itu, bijih yang ditambang secara anual ditargetkan sebanyak 75—77 juta ton untuk tahun ini.
Jumlah konsentrat yang diproduksi secara harian disetujui sebanyak 10.000 ton dan secara tahunan 3,5 juta ton, tergantung kadar tembaga yang ditambang. Kemudian, produksi tembaga tahun ini sebanyak 1,67 miliar pon, emas 1,6 juta ons, dan 5,7 juta ons.
(azr/wdh)





























