Akan tetapi, dalam jangka panjang, fenomena ini justru berpotensi menggerogoti keuangan perusahaan. Terutama bagi produsen mobil dengan modal terbatas karena belum memiliki basis produksi lokal yang kuat atau belum siap bersaing dalam skala global.
“Diskon berlebihan dan pembakaran modal yang tidak terukur ini tentunya akan melemahkan likuiditas dan profitabilitas, dan akhirnya hanya akan menyisakan pemain yang benar-benar kuat dari sisi modal, strategi, dan manajemen,” jelas dia.
Minim yang bertahan
Lebih jauh Yannes memproyeksikan hanya akan ada sedikit merek yang bertahan imbas perang harga tersebut. Menurutnya, kompetisi yang terjadi saat ini merupakan buah dari rangkaian regulasi yang telah mengubah peta kompetisi industri asing di Indonesia masuk ke model seleksi alam yang baru.
“Satu per satu akan rontok, bukan karena produknya jelek, tapi karena tidak cukup kuat bertahan dalam kompetisi yang brutal akibat ledakan jumlah pemain di tengah daya beli masyarakat yang belum pulih dan pasar kendaraan HEV, PHEV khususnya EV yang belum mapan,” ungkapnya.
“Kalau tidak hati-hati, yang tersisa nanti bukan hanya lebih sedikit merek, tapi juga industri lokal yang lemah dan kehilangan daya saing jangka panjang,” sambungnya.
Setali tiga uang, pengamat otomotif Bebin Djuana berpandangan gencarnya sejumlah pabrikan mobil listrik China dalam memasarkan produknya di Tanah Air menjadi sebuah fenomena pergeseran supply dan demand yang baru karena kendaraan akan diperlakukan seperti membeli gadget oleh konsumen.
“Sebetulnya bagi konsumen kita hal demikian positif sepanjang mendapatkan produk yang terbaik dengan harga kejutan, walaupun harus disadari bahwa akan berdampak negatif di pasar sekunder,” kata Bebin saat dihubungi, Rabu (5/11/2025).
Bebin menyebut belum mengetahui secara pasti apa yang sebenarnya terjadi di pasar domestik China. Akan tetapi, di pasar dalam negeri terjadi dua segmen market yang berbeda dengan melihat produknya dan harga yang sangat berdekatan.
“Apakah ini sebuah test market? Kita belum tau. Apakah mereka over stock? rasanya tidak,” ujar Bebin.
“Beberapa kali saya amati, pasar kita dijadikan launching awal setelah launching domestik mereka [China], atau setidaknya sangat berdekatan bahkan mendahului negara-negara lain.”
Dia menilai konsumen otomotif di Indonesia sangat menyukai sesuatu yang baru apalagi mengetahui bahwa mobil tersebut baru diluncurkan di Negeri Panda dengan harga yang memikat sehingga akan menjadi daya tarik yang hebat bagi konsumen RI.
“Dua kali terbukti di negara kira dan mereka [China] paham itu,” tuturnya.
Di sisi lain, Bebin menuturkan perang harga tersebut disinyalir juga terjadi di China dan Indonesia sangat menarik bagi China. Di samping itu, produsen mobil China sadar betapa kuatnya brand-brand Jepang berakar di RI.
“Ketika bisnis menjadi fokus, dan mereka menguasai teknologi dan desain modern pertandingan pun dimulai,” ungkapnya.
Tak hanya itu, menurut Bebin, Produsen mobil China di Indonesia tidak hanya berjualan tapi juga membangun jaringan. Pabrikan China dinilai amat serius menggarap pasar Indonesia.
Konsumen Kecewa
Namun, ada kekecewaan dari sisi konsumen dalam menanggapi perang harga yang terjadi antar produsen mobil China, terkhusus dari pabrikan mobil Chery. Bagaimana tidak, enam bulan sekali produsen otomotif asal Negeri Panda tersebut masuk ke RI menawarkan mobil dengan harga lebih rendah di kelasnya. Konsumen jadi korban perang harga.
Pemilik mobil Cherry Omoda E5 2024 misalnya. Peter Jusuf (27) mengaku menyesal membeli mobil China lantaran cepat sekali mengeluarkan versi terbarunya dengan fitur yang lebih lengkap, canggih, dan harganya yang murah.
“Anda itu kalau mau beli mobil China pasti siap rugi kayak misal Anda suka dengan desainnya, fiturnya, jangan pikir ke mana-mana karena memang mobil China ini kayak baru setengah tahun lagi dia keluar baru lagi dengan versi yang lebih murah dan fitur lebih lengkap,” kata Peter saat dihubungi, Rabu (5/11/2025).
Dia pun menyesalkan karena kondisi itu membuat banyak pihak khususnya konsumen merasa kehadiran kendaraan asal China merusak pasar dalam negeri. Dia pun meminta pemangku kepentingan dapat berlaku adil.
“Buat harga yang bener saja, tiap ada pembaruan turun harga bagaimana pemilik lama enggak kecewa. Jadi jangan bikin konsumen lama kecewa, konsumen baru yang diuntungkan,” ujarnya.
“Ini bukan tiap tahun ini sangat sangat cepat, enam bulan sekali [masuk produk baru].”
Baru-baru ini, Jaecoo, mengeluarkan produk mobil listrik terbarunya: J5 EV, Senin (3/11/2025). Produk elektrifikasi teranyarnya dibanderol dengan harga mulai Rp249,9 juta.
Jaecoo J5 EV diluncurkan dalam dua varian dengan skema harga khusus pada tahap awal penjualan. Untuk 1.000 pembeli pertama, varian Jaecoo J5 EV Standard dipasarkan seharga Rp249,9 juta, sementara tipe Premium dibanderol Rp299,9 juta (on the road/OTR Jakarta).
Sebelumnya, Build Your Dreams (BYD) juga resmi meluncurkan model terbarunya, BYD Atto 1 di Indonesia dengan harga Rp199 juta, sekaligus kembali meramaikan pasar EV di dalam negeri pada Juli lalu.
Di sisi lain, sejumlah pabrikan mobil, utamanya pabrikan mobil listrik mengoreksi harga jualnya. Cherry Omoda E5 misalnya menurunkan harga jual menjadi Rp399 juta, meski kala launching di bulan Februari 2024 lalu, harga mobil ini bisa mencapai Rp498 juta.
Tak cuma Chery, produsen asal China lainnya yakni Wuling juga menurunkan harga mobil 4-seaternya, Wuling Air EV Long Range menjadi Rp195 juta. Padahal, saat diluncurkan mobil compact ini dibanderol dengan harga Rp295 juta.
(ell)


























