Logo Bloomberg Technoz

Perang Harga EV China: RI Masuk Fase Hyper Competition

Mis Fransiska Dewi
07 November 2025 09:20

Peluncuran Jaecoo J5EV. (jaecoo)
Peluncuran Jaecoo J5EV. (jaecoo)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Mulai menjamurnya mobil listrik murah dengan fitur canggih terutama pada pabrikan mobil China memantik isu perang harga. Pakar otomotif menilai Isu ‘perang harga’ mobil listrik asal China bukan perkara harga yang murah atau potensi predatory pricing, melainkan industri otomotif Indonesia sedang masuk ke fase hyper competition atau kompetisi yang sangat ketat dan menciptakan ketidakstabilan di pasar. 

“Cerminan dari dinamika yang jauh lebih besar. Industri otomotif Indonesia sedang masuk ke fase hyper competition. Artinya, terlalu banyak pemain memperebutkan ceruk pasar yang belum tumbuh secara signifikan, apalagi di tengah daya beli masyarakat yang masih belum pulih sepenuhnya,” kata pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu saat dihubungi, Jumat (7/11/2025). 

Dengan banjirnya merek-merek baru baik dari China, Korea, Jepang, hingga Eropa yang berebut segmen pasar yang sama, terutama mobil listrik dan hybrid kelas menengah ke bawah, menurutnya, kondisi ini bakal menciptakan persaingan super ketat yang  berujung pada kanibalisme pasar.


“Ini terjadi saat merek-merek mobil saling memakan pangsa pasar satu sama lain melalui berbagai strategi agresif seperti diskon besar-besaran, bakar uang, hingga promosi masif,” ujarnya. 

Yannes berpandangan bila hal ini bukan karena permintaan pasar yang tumbuh alami, tapi karena produsen ingin mengamankan posisi lebih dulu. Dalam jangka pendek, kondisi ini membuat konsumen menjadi kelompok yang diuntungkan.