“Karena kan DME ini dulu pernah dicoba dijalankan, sempat groundbreaking malah, tapi kemudian berhenti kan,” kata dia.
Sebelumnya, Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional telah menyerahkan pra-kajian 18 proyek hilirisasi kepada BPI Danantara dan sudah memasuki tahap finalisasi.
Dari 18 proyek tersebut, salah satunya merupakan proyek DME batu bara. Proyek itu menjadi penting untuk mensubstitusi impor gas minyak cari atau LPG.
Menurut hitung-hitungan Kementerian ESDM, konsumsi LPG Indonesia sekitar 8,5 juta ton, namun kapasitas produksi Indonesia hanya sebesar 1,3 juta ton. Dengan begitu, 6,5–7 juta ton sisanya didapatkan dari impor.
Belakangan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membeberkan perusahaan asal Eropa dan Korea Selatan (Korsel) berminat membentuk konsorsium untuk berinvestasi pada proyek gasifikasi batu bara tersebut.
Selain itu, Bahlil menambahkan, perusahaan asal China turut berminat pada proyek substitusi impor LPG itu.
“Satu dari China, satu gabungan antara Korea [Selatan] dan Eropa. Nanti kita lihat, finalnya nanti kita lihat,” kata Bahlil kepada awak media di Jakarta, Selasa (28/10/2025).
Bahlil mengatakan kementeriannya tengah menguji kajian atau feasibility study (FS) dari proyek DME dengan teknologi dari beberapa negara tersebut.
“DME, kita belum finalkan. Sekarang kita lagi uji FS-nya dengan teknologinya. Tetapi ancang-ancangnya sudah ada dua,” ucap dia.
Proyek PTBA
Di sisi lain, manajemen PTBA memastikan rencana pengembangan DME perseroan memiliki spesifikasi yang serupa dengan proyek yang sempat digagas bersama dengan Air Products & Chemicals Inc. (APCI).
PTBA juga memastikan BPI Danantara sedang mengkaji berbagai insentif yang akan diberikan terhadap proyek tersebut, mulai dari keringanan pajak, kemudahan impor barang modal, hingga dukungan terhadap kebutuhan belanja modal atau Capex proyek.
“Spek dan kapasitas DME masih sama. Sekitar 1 juta ton per tahun. Itu sesuai arahan Satgas Hilirisasi Kementerian ESDM,” kata Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA Turino Yulianto ketika dihubungi Bloomberg Technoz.
Turino menjelaskan, peran Danantara dalam proyek tersebut hingga kini masih dalam pembahasan.
Dengan kata lain, belum terdapat kepastian apakah sovereign wealth fund (SWF) tersebut akan membantu pembiayaan proyek tersebut atau tidak.
Kendati demikian, dia memastikan, perseroan bersama dengan Danantara masih melanjutkan pembahasan proyek hilirisasi itu, termasuk pembicaraan aspek perhitungan manfaat ekonomi proyek serta potensi dukungan fiskal.
“Dengan Danantara masih dalam proses diskusi. Belum selesai. Di dalam nya membahas insentif, cost-benefit analysis, dan lain-lain. Mudah-mudahan segera mengerucut,” tuturnya.
(naw)
































