Logo Bloomberg Technoz

Obligasi AS turun setelah pemerintah mengindikasikan akan memperbesar ukuran lelang obligasi, sementara tanda-tanda ketahanan ekonomi menurunkan peluang pemangkasan suku bunga oleh Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) pada Desember mendatang.

Deputi Gubernur The Fed Stephen Miran menyebut peningkatan tenaga kerja di sektor swasta sebagai “kejutan yang menyenangkan,” namun tetap menegaskan bahwa suku bunga perlu lebih rendah. Imbal hasil obligasi (yield) di berbagai tenor naik hingga tujuh basis poin, dengan tenor jangka panjang mencatat kenaikan terbesar. Yield obligasi 10 tahun dan 30 tahun masing-masing mencapai 4,16% dan 4,74%, tertinggi sejak 7 Oktober.

Fokus investor obligasi juga tertuju pada sidang Mahkamah Agung AS terkait legalitas tarif perdagangan yang diberlakukan Gedung Putih tahun ini. Tarif tersebut menyumbang lonjakan pendapatan pemerintah federal dan membantu mempersempit defisit anggaran untuk tahun fiskal yang berakhir 30 September. Namun, kemajuan itu berisiko terhenti jika Mahkamah Agung memutuskan sebaliknya.

“Jika tarif dibatalkan, obligasi 10 tahun dan 30 tahun sangat rentan terhadap pelemahan mendadak,” kata John Brady, pakar derivatif suku bunga di RJ O’Brien. “Pasar akan menghadapi situasi defisit yang jauh lebih buruk.”

Dari Asia, Kementerian Keuangan China pada Rabu (5/11) kembali ke pasar obligasi internasional dan berhasil menghimpun dana sebesar US$4 miliar. Pemerintah menjual masing-masing US$2 miliar obligasi dolar tenor tiga tahun dan lima tahun, dengan imbal hasil sangat ketat terhadap obligasi AS — tanpa premi untuk tenor tiga tahun dan hanya dua basis poin untuk tenor lima tahun, menurut sumber yang mengetahui transaksi tersebut.

Di pasar saham AS, suasana perdagangan Rabu relatif tenang setelah koreksi yang menekan beberapa perusahaan teknologi terbesar dunia.

Kekhawatiran meningkat mengenai semakin sempitnya kelompok saham yang menopang reli pasar, sementara perubahan nada kebijakan The Fed turut menurunkan optimisme terhadap potensi penurunan suku bunga. Indikator teknikal mulai menunjukkan sinyal kehati-hatian, seiring peringatan dari para CEO Wall Street tentang valuasi saham yang mulai “terlalu panas.”

“Para trader yang mencari alasan baru untuk membenarkan valuasi tinggi pasar belum menemukan faktor yang cukup kuat. Tapi mereka juga enggan menjual,” kata Fawad Razaqzada dari Forex.com.

Ia menambahkan bahwa strategi buy the dip (membeli saat harga turun) masih menjadi tema utama di pasar saham, sehingga setiap koreksi sejauh ini cenderung terbatas.

Di pasar komoditas, harga emas naik setelah investor mencerna data ketenagakerjaan AS dan memperkirakan arah kebijakan suku bunga The Fed. Sementara itu, harga minyak masih bergerak lesu karena prospek kelebihan pasokan yang terus berlanjut.

(bbn)

No more pages