Logo Bloomberg Technoz

Meski sanksi terhadap Rusia sempat membantu menopang harga minyak setelah anjlok ke level terendah dalam lima bulan, salah satu delegasi menyatakan bahwa masih terlalu dini bagi OPEC+ untuk menilai dampak keseluruhan dari langkah tersebut.

Jeda dari Januari hingga Maret akan menjadi yang pertama sejak OPEC+ mulai secara agresif memulihkan pasokan minyak yang sempat dihentikan sejak April.

“OPEC+ tampak menahan diri, tapi ini langkah yang diperhitungkan,” kata Jorge Leon, analis di Rystad Energy yang pernah bekerja di Sekretariat OPEC. “Sanksi terhadap produsen minyak Rusia menambah lapisan ketidakpastian dalam proyeksi pasokan.”

Dengan keputusan ini, delapan negara anggota masih memiliki sekitar 1,2 juta barel per hari dari target pasokan saat ini yang belum direalisasikan. Para delegasi menyebutkan bahwa keputusan pada Minggu mendapat dukungan luas dari negara anggota.

Harga minyak mentah Brent turun sekitar 13% sepanjang tahun ini, dan ditutup di bawah US$65 per barel pada Jumat lalu. Selain sanksi terhadap Rusia, harga minyak juga didorong oleh kesepakatan gencatan dagang selama satu tahun antara Washington dan Beijing yang dicapai pekan lalu.

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dijadwalkan mengunjungi Washington akhir bulan ini untuk bertemu Presiden AS Donald Trump, yang berulang kali mendesak OPEC membantu menurunkan harga bahan bakar.

Produksi Tak Capai Target

Kenaikan produksi OPEC+ selama ini jauh di bawah volume yang diumumkan. Beberapa anggota masih mengimbangi kelebihan produksi sebelumnya, sementara yang lain kesulitan meningkatkan kapasitas, sehingga dampaknya terhadap pasar terbatas.

OPEC+ berulang kali menegaskan bahwa keputusan untuk meningkatkan produksi tahun ini—meski banyak peringatan dari industri tentang risiko penurunan harga—didorong oleh “fundamental pasar yang sehat” dan rendahnya tingkat persediaan global. Ketahanan harga minyak sepanjang tahun ini, meskipun kelompok tersebut telah memulihkan pasokan 2,2 juta barel lebih awal dari jadwal, dianggap sebagai pembenaran atas kebijakan tersebut.

Namun, tanda-tanda kelebihan pasokan semakin jelas. Permintaan dari China mulai melemah, sementara produksi di kawasan Amerika terus meningkat. Perusahaan perdagangan besar seperti Trafigura Group menilai kelebihan pasokan sudah terjadi, terlihat dari meningkatnya jumlah minyak yang tersimpan di kapal tanker dunia.

Badan Energi Internasional (IEA) di Paris memperkirakan pasokan global dapat melampaui permintaan hingga lebih dari 3 juta barel per hari pada kuartal ini, dan berpotensi menciptakan surplus besar tahun depan. JPMorgan Chase & Co serta Goldman Sachs Group Inc bahkan memproyeksikan harga minyak akan turun di bawah US$60 per barel.

Penurunan harga minyak ini juga mulai menekan produsen, termasuk perusahaan pengebor minyak serpih di Amerika Serikat. Meski AS masih menjadi sumber utama pertumbuhan pasokan tahun ini, produksi diperkirakan akan melambat pada 2026. Para eksekutif di sektor tersebut memperingatkan bahwa berkurangnya investasi bisa membawa industri ke “titik kritis.”

Bagi Arab Saudi, pergeseran dari strategi lama yang berfokus menjaga harga minyak tinggi turut berdampak pada perekonomiannya. Defisit anggaran negara itu semakin dalam pada kuartal ketiga, dan pemerintah terpaksa memangkas pengeluaran untuk sejumlah proyek transformasi ekonomi besar, termasuk pembangunan kota futuristik Neom.

Aliansi penuh yang terdiri dari 22 negara anggota OPEC+ dijadwalkan bertemu kembali pada 30 November mendatang untuk meninjau tingkat produksi untuk tahun 2026.

(bbn)

No more pages