Logo Bloomberg Technoz

Kenaikan pos keuangan tersebut terlalu tinggi, sehingga tidak bisa dikompensasi oleh penurunan beban lain-lain yang hanya sebesar 25% secara tahunan menjadi Rp62,44 miliar.

Alhasil, PYFA terpaksa mencatat rugi usaha Rp150,69 miliar dari sebelumnya rugi Rp 112,81 miliar.

Bottom line kian terseret setelah PYFA mencatat kenaikan beban keuangan 68,27% secara tahunan menjadi Rp239 miliar.

Akibatnya, kerugian bersih PYFA per akhir September 2025 membengkak jadi Rp365,82 miliar, dari sebelumnya Rp214,24 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

*Rumor Rights Issue*

Sebelumnya, PYFA dikaitkan dengan isu rights issue mencapai nilai triliunan rupiah. Nilai ini ditargetkan karena PYFA dikabarkan akan mengakuisisi rumah sakit swasta dari salah satu pemain properti besar.

Corporate Secretary Herdiasti Anggitya PYFA mengatakan, pihaknya memastikan bahwa setiap aksi korporasi yang dilakukan mematuhi seluruh peraturan yang berlaku, termasuk ketentuan dari Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Seluruh informasi terkait aksi korporasi akan disampaikan kepada publik secara transparan melalui mekanisme Keterbukaan Informasi yang telah ditetapkan," ujarnya kepada Bloomberg Technoz, Kamis (23/10/2025).

Sedikit menilik ke belakang, PYFA memang tengah memasang posisi ekspansi secara anorganik.

Pada Juni 2024, perusahaan mengakuisisi 100% saham Probiotec Limited, perusahaan farmasi asal Australia, dengan nilai transaksi US$252 juta atau setara sekitar Rp2,7 triliun.

Di sebuah kesempatan, Direktur Utama PYFA Lee Yan Gwan mengatakan, akuisisi Probiotec bukan yang terakhir. Perusahaan masih memiliki rencana merger dan akuisisi setidaknya atas tujuh perusahaan.

PYFA akan mengutamakan kas internal sebagai modal ekspansi anorganik. Prioritas modal berikutnya adalah pinjaman perbankan dan jika perlu meminta persetujuan pemegang saham untuk menggelar rights issue.

(red)

No more pages