Logo Bloomberg Technoz

Kendati demikian, Xi dan Takaichi tetap berpegang pada jalur diplomatik yang telah dibangun dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya antara pemimpin kedua negara. Di awal pertemuan, keduanya menegaskan kembali komitmen untuk mengejar hubungan “strategis dan saling menguntungkan” serta menjaga “relasi yang konstruktif dan stabil.”

“Saya menjadikan prinsip dan tindakan sebagai landasan politik saya. Saya ingin terus berdiskusi secara terbuka dengan Ketua Xi dan memperdalam hubungan kami sebagai sesama pemimpin,” kata Takaichi dalam pertemuan yang berlangsung kurang dari 30 menit, menurut keterangan pemerintah Jepang.

Meski dikenal berhaluan keras dalam urusan diplomasi, Takaichi tampak mengambil pendekatan lebih pragmatis setelah menjabat sebagai perdana menteri. Sebagai tanda perubahan sikapnya, ia bahkan melewatkan kunjungan rutinnya ke kuil Yasukuni.

Namun, China tampaknya masih berhati-hati dalam menilai pemimpin baru Jepang itu. Berbeda dengan kebiasaan sebelumnya, Xi belum secara terbuka menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya Takaichi, meskipun ia cepat melakukannya kepada para pendahulu Takaichi.

Pertemuan ini berlangsung di tahun ketika China semakin menunjukkan pengaruh militernya di kawasan. Pada Juni lalu, Beijing mengerahkan dua kapal induk secara bersamaan ke Samudra Pasifik untuk pertama kalinya, memperlihatkan jangkauan kekuatan militernya dan menimbulkan kekhawatiran baru di Tokyo setelah kapal-kapal itu terdeteksi di zona ekonomi eksklusif Jepang.

Belum diketahui apakah Takaichi menyinggung hal tersebut atau sengketa teritorial lainnya. Namun, isu pembatasan ekspor mineral penting kemungkinan besar dibahas. Kebijakan pembatasan itu sebelumnya digunakan Beijing sebagai alat tawar dalam perang dagang dengan AS, tetapi dampaknya juga dirasakan negara lain seperti Jepang, Korea Selatan, dan Uni Eropa.

Pasokan logam tanah jarang—17 unsur penting dalam industri otomotif dan semikonduktor—menjadi perhatian khusus bagi Takaichi, yang pernah menjabat sebagai menteri keamanan ekonomi.

Meskipun pertemuan antara Xi dan Presiden AS Donald Trump sehari sebelumnya menghasilkan janji pelonggaran sementara pembatasan ekspor China, para menteri di kabinet Takaichi tetap menyuarakan kekhawatiran Tokyo atas kebijakan tersebut.

Dalam percakapan telepon dengan diplomat tertinggi China, Wang Yi, Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi menyampaikan keprihatinan mendalam, sebagaimana dilakukan Menteri Perdagangan Jepang Ryosei Akazawa dalam pertemuannya dengan Menteri Perdagangan China Wang Wentao di sela pertemuan APEC di Korea Selatan.

“Saya menyampaikan kekhawatiran kuat atas dampak serius kebijakan ekspor China terhadap rantai pasok global, termasuk Jepang. Kami mendesak China untuk mengambil langkah yang tepat,” ujar Akazawa kepada wartawan setelah pertemuan.

Bagi China, kunjungan Takaichi ke Taiwan—termasuk lawatannya pada April bersama delegasi parlemen—menjadi sumber perhatian tersendiri. Beijing juga berupaya membatasi keterlibatan Tokyo dalam upaya Washington membangun rantai pasok alternatif yang tidak bergantung pada China, serta membatasi akses terhadap teknologi dan pasokan chip berteknologi tinggi.

Setelah panggilan telepon antara Motegi dan Wang, juru bicara pemerintah China menyatakan bahwa Beijing menghargai pernyataan Takaichi yang menegaskan Jepang tidak berniat memutus hubungan ekonomi dengan China.

“Kami berharap Jepang dapat bekerja sama dengan China untuk menjaga fondasi politik hubungan bilateral dan terus memperbaiki serta mengembangkan relasi China-Jepang ke arah yang benar,” ujar juru bicara Guo Jiakun.

(bbn)

No more pages