Penurunan ini terutama disebabkan oleh curah hujan tinggi sepanjang tahun serta penyesuaian target produksi dari beberapa klien.
Dari segmen mesin konstruksi, perusahaan meraih pendapatan Rp29,3 triliun, meningkat 11% YoY. Penjualan alat berat Komatsu naik 10% YoY menjadi 3.653 unit hingga September 2025. Dari total penjualan tersebut, 63% diserap sektor pertambangan, 14% sektor perkebunan, 13% sektor konstruksi, dan 10% sektor kehutanan.
Sementara itu, segmen pertambangan batu bara termal dan metalurgi mencatatkan pendapatan Rp18,8 triliun, turun 9% YoY. Di sisi lain, segmen pertambangan emas dan mineral lainnya menyumbang Rp10,3 triliun, tumbuh signifikan 53% YoY. Lonjakan ini ditopang oleh peningkatan volume penjualan dan harga jual emas.
Anak usaha UNTR, PT Agincourt Resources (PTAR) dan PT Sumbawa Jutaraya (SJR), mencatatkan total penjualan setara emas 178.000 ons, naik 8% YoY. PTAR yang mengoperasikan tambang emas Martabe di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, mencatatkan penjualan 170.000 ons, naik 3% YoY.
Sementara SJR, yang mengelola tambang emas di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, mencatatkan 8.000 ons penjualan.
Pada bisnis nikel, PT Stargate Pasific Resources (SPR), anak usaha UNTR yang beroperasi di Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, membukukan penjualan bijih nikel sebesar 1,6 juta wet metric ton (wmt), terdiri dari 0,5 juta wmt saprolit dan 1,1 juta wmt limonit.
Di sisi neraca, total aset perusahaan mencapai Rp178,71 triliun dengan liabilitas Rp76,12 triliun dan ekuitas Rp102,58 triliun per 30 September 2025.
Di sisi lain, posisi neraca UNTR masih sangat solid. Total aset naik menjadi Rp178,7 triliun, dibandingkan Rp169,5 triliun per akhir 2024. Kas dan setara kas melonjak menjadi Rp28,3 triliun, dari Rp25,1 triliun pada akhir tahun lalu, mencerminkan likuiditas yang kuat meski kondisi pasar menantang.
Liabilitas perusahaan relatif stabil di level Rp76,1 triliun, sementara utang jangka panjang turun tajam dari Rp14,86 triliun menjadi Rp9,58 triliun. Dengan demikian, ekuitas perseroan meningkat menjadi Rp102,6 triliun, naik dari Rp98,2 triliun pada akhir 2024.
Arus kas dari aktivitas operasi tercatat Rp18,35 triliun, meski menurun dibanding Rp21,5 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Arus kas investasi masih tinggi di angka minus Rp7,9 triliun, menunjukkan aktivitas ekspansi dan pengembangan tambang serta energi masih berlanjut.
(rtd/hps)































