Menurutnya, terdapat dua strategi utama untuk memacu investasi yakni meningkatkan pertumbuhan investasi ke level dua digit atau menurunkan rasio ICOR yang saat ini berada di sekitar 6,2 menjadi 4 atau 5.
“Jadi kalau saya lihat strategi pemerintah itu sekarang adalah yang kedua, bagaimana caranya kita menurunkan ICOR sehingga pertumbuhan investasi itu enggak perlu double digit. Karena kalau ICOR 6,2 kita enggak turunkan, pertumbuhan investasi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi lebih tinggi itu harus double digit terus, berat,” ujarnya.
“Jadi ICOR itu harus diturunkan arahnya ke sana, dan caranya adalah structure reform policy-nya harus didorong dan tampaknya itu yang menjadi fokus.”
Selain itu meningkatkan investasi, pemerintah juga harus mampu meningkatkan lapangan pekerjaan. Menurut Leo, harus ada kebijakan untuk mendorong investasi yang sifatnya lebih intensif sehingga terjadi penciptaan lapangan kerja.
“Karena kan ini sekarang [lapangan kerja] merupakan narasi pemerintah juga. Nah, salah satu low hanging fruit yang di-push oleh pemerintah itu sektor pariwisata. Karena kalau kita lihat sektor pariwisata, balik lagi backlog sama forward leakage itu sebenarnya cukup banyak sektor-sektor yang terlibat,” ucapnya.
Di sisi lain, Leo meyakini pertumbuhan ekonomi pada semester II-2025 bakal mencapai 5%-5,1%. Hal ini selaras dengan pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan BNI di kisaran 5-5,2%.
“Semester kedua tampaknya pertemuan ekonomi bisa sedikit lebih tinggi. Jadi, kita melihat bahwa baseline 5% itu mungkin deviasinya cenderung ke atas. Kita mungkin melihatnya di kisaran bisa di 5%-5,1%,” ucapnya.
Leo menjelaskan dinamika kebijakan pemerintah saat ini tengah berubah karena kebijakan fiskal lebih ekspansif. Dia menilai Menteri Keuangan saat ini gencar merealisasikan anggaran untuk meningkatkan perputaran uang. Sehingga realokasi anggaran ke depannya akan lebih sering terjadi untuk memastikan distribusi anggaran itu lebih merata.
“Jadi, dinamika kebijakan berubah. Ditambah lagi dari sisi kebijakan moneter. Jadi, kalau kita lihat alignment kebijakannya itu memang terukur,” tuturnya.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi ke depan akan lebih solid setelah masa transisi selesai atau pada 2026. Pertumbuhan ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto relatif di angka 5% saat ini, namun yang ini didorong yakni distribusi kue ekonominya agar lebih merata.
“Dalam konteks meningkatkan distribusi kue ekonominya itu lebih merata kepada segmen-segmen yang memang memerlukan, terutama untuk yang kelas menengah bawah,” katanya.
(ain)


























