Sementara itu, harga beras — salah satu pendorong utama inflasi tahun ini — naik 49,2% dibandingkan tahun lalu. Meski masih tinggi, kenaikan itu melambat dari 69,7% pada Agustus. Perlambatan ini turut menekan inflasi makanan olahan, yang turun dari 8% menjadi 7,6%.
“Kami merevisi perkiraan kenaikan suku bunga BOJ sebesar 25 basis poin, dari semula Oktober menjadi Desember. Dengan absennya sejumlah data penting dari AS akibat penutupan pemerintahan dan meningkatnya ketegangan perdagangan antara Washington dan Beijing, bank sentral kemungkinan akan menunggu kejelasan lebih lanjut sebelum mengurangi stimulus,” ujar Taro Kimura, ekonom dari Bloomberg Economics.
Gubernur BOJ Kazuo Ueda sebelumnya menyoroti inflasi pangan sebagai salah satu dari tiga faktor utama yang akan memengaruhi waktu kenaikan suku bunga berikutnya, selain kondisi ekonomi AS dan dampak tarif impor AS. Sebagian besar ekonom memperkirakan BOJ akan mempertahankan kebijakan suku bunga saat rapat dewan pekan depan.
Indikator inflasi inti lain yang juga mengecualikan energi naik 3,0%, melambat dari 3,3% pada periode sebelumnya dan berada di bawah perkiraan analis sebesar 3,1%.
(bbn)




























