Menurut laporan Bespoke Investment Group, dalam sepekan terakhir terjadi penurunan tajam minat terhadap sektor-sektor yang sejak awal Agustus sempat “melonjak parabolik.”
“Tampaknya, setidaknya untuk sementara, musiknya berhenti dan pesta telah usai bagi saham-saham paling spekulatif,” tulis para analis Bespoke. “Tidak ada yang tahu kapan musiknya akan kembali dimainkan, tapi biasanya semakin tinggi mereka naik, semakin keras pula jatuhnya.”
Indeks S&P 500 ditutup di bawah level 6.700. Saham Beyond Meat Inc. sempat bergerak liar, mengingatkan pada fenomena saham meme yang sesekali mengguncang pasar. Indeks Russell 2000 turun 1,5%. Dalam perdagangan setelah jam bursa, International Business Machines Corp. (IBM) melaporkan pendapatan yang mengecewakan dari unit Red Hat-nya.
Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun turun satu basis poin menjadi 3,95%. Lelang obligasi 20 tahun senilai US$13 miliar menunjukkan permintaan kuat. Bitcoin turun 2,6%, sementara dolar AS bergerak tidak menentu. Emas sempat anjlok hingga 2,9% sebelum memangkas sebagian kerugiannya. Harga minyak kembali melonjak.
Di Jepang, Perdana Menteri baru Sanae Takaichi memerintahkan penyusunan paket kebijakan ekonomi tambahan untuk membantu rumah tangga dan dunia usaha menghadapi tekanan inflasi yang terus berlanjut.
Sementara itu, di kawasan lain, Yangtze Memory Technologies Co tengah mempertimbangkan penawaran umum perdana (IPO) yang dapat menilai perusahaan semikonduktor asal China itu lebih dari US$40 miliar — berpotensi menjadi salah satu IPO terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Laporan Keuangan AS
Di tengah melambatnya reli saham, sisi positifnya adalah proporsi perusahaan AS yang berhasil melampaui ekspektasi laba pada kuartal ini menjadi yang tertinggi sejak 2021. Sebagian besar emiten S&P 500 biasanya mampu mencatatkan kinerja di atas perkiraan, namun musim laporan kali ini menonjol karena para analis sebelumnya telah menaikkan standar proyeksi mereka.
Menurut Dubravko Lakos-Bujas dari JPMorgan Chase & Co, perusahaan-perusahaan AS masih akan mencatatkan pertumbuhan laba yang kuat, didukung oleh siklus investasi AI yang solid, belanja fiskal yang berkelanjutan, dan daya beli konsumen yang tetap tangguh.
Sementara itu, Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dilaporkan telah membagikan rancangan awal rencana revisi yang secara signifikan akan melonggarkan aturan modal bank era pemerintahan Biden bagi lembaga keuangan besar di Wall Street, menurut sumber yang mengetahui hal tersebut.
Secara terpisah, bank sentral AS juga dikabarkan tidak lagi menerima data ketenagakerjaan sektor swasta dari penyedia independen, menambah keterbatasan informasi ekonomi di tengah penutupan sebagian pemerintahan federal yang masih berlangsung.
Perusahaan layanan penggajian ADP Research menghentikan pengiriman data tersebut — yang sebelumnya mencakup sekitar 20% dari total tenaga kerja swasta di AS — setelah pidato Deputi Gubernur The Fed Christopher Waller pada 28 Agustus yang menyinggung statistik tersebut, menurut sumber yang mengetahui situasinya.
(bbn)


























