BHP sendiri memperkirakan permintaan global terhadap logam merah itu akan melonjak 70% hingga 2050.
Selama setahun terakhir, BHP menjadi produsen tembaga terbesar di dunia dengan kapasitas sekitar 2 juta ton per tahun, berkat peningkatan operasi di Cile dan Australia.
Peningkatan produksi tembaga menjadi prioritas utama bagi CEO Mike Henry, yang kini memasuki tahun keenam masa jabatannya.
“Gangguan besar di tambang milik pesaing kami telah memperketat fundamental pasar tembaga secara keseluruhan, menguntungkan portofolio aset kelas dunia kami,” kata Henry dalam laporan tersebut.
“Secara keseluruhan, sinyal ekonomi makro untuk permintaan komoditas tetap tangguh.”
Seperti halnya Rio Tinto Group, BHP tengah menyeimbangkan portofolionya dengan fokus yang makin besar pada tembaga. Namun, bijih besi masih menyumbang lebih dari separuh pendapatannya.
BHP saat ini juga tengah bersitegang dengan China Mineral Resources Group Co. (CMRG) terkait dengan mekanisme penetapan harga bijih besi, dan perselisihan itu diperkirakan masih akan berlanjut hingga tahun depan.
Meski demikian, pengiriman bijih besi BHP ke China sejauh ini tidak banyak terganggu karena sebagian besar alokasi pengapalan untuk November dan Desember telah terjual, menurut sumber yang mengetahui hal tersebut.
Produksi bijih besi BHP tercatat 64,1 juta ton, turun tipis 0,1% dari tahun sebelumnya. Panduan produksi untuk tahun fiskal yang berakhir 30 Juni tetap 258 juta hingga 269 juta ton.
Setelah menunjukkan ketahanan harga sepanjang tahun, pasar bijih besi kini diprediksi mendekati fase pelemahan, tertekan oleh kelebihan pasokan baja global dan permintaan China yang lesu. Sejumlah analis memperkirakan harga bisa turun di bawah US$100 per ton tahun depan.
Kualitas Bijih Menurun
Perusahaan tambang bijih besi Australia juga menghadapi tantangan berupa penurunan kualitas bijih dan menipisnya cadangan, yang mendorong mereka mempercepat proyek pengembangan baru.
BHP tetap agresif, menargetkan peningkatan produksi bijih besi menjadi 305 juta ton per tahun dalam tiga tahun ke depan.
Selain itu, BHP telah lama berupaya masuk ke pasar pupuk potash, tetapi baru-baru ini menunda ekspansi proyek Jansen di Kanada setelah mengalami pembengkakan biaya dan menghadapi kondisi pasar yang kelebihan pasokan.
Meski demikian, BHP tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang potash, yang dipandang memiliki potensi serupa dengan bisnis bijih besi dari sisi skala dan efisiensi.
Dalam laporannya, perusahaan menyebut pembangunan Jansen Tahap 1 telah mencapai 73%, meski waktu operasionalnya masih dalam tahap peninjauan.
(bbn)





























