“Kami sudah membuka skema sinergi terkait khusus mineral kritis, akan segera diumumkan ada 17 proposal yang terkait dengan mineral kritis akan kami berikan pendanaan khusus untuk tahap awal untuk melakukan kajian-kajian strategis," ujarnya di sela Minerba Convex 2025, dikutip Jumat (17/10/2025).
“Awal ini adalah berupa skema pengkajian secara strategis, terkait dengan mineral ini. Dan tentu di sana ada kolaboratornya. Nah, kolaboratornya salah-satunya PT Timah, MIND ID, ada di sana."
Ketut juga memastikan bahwa penelitian yang dilakukan tersebut digagas oleh Kemendiktisaintek, bukan oleh Badan Industri Mineral — badan baru yang dibentuk Presiden Prabowo Subianto untuk menggencarkan riset mineral kritis Indonesia.
Badan Mineral
Terkait dengan Badan Industri Mineral, Ketut mengklaim tidak mengetahui proses pembahasan pembentukan badan baru tersebut. Dia menyatakan Mendiktisaintek Brian Yuliarto, yang juga Kepala Badan Industri Mineral, merupakan pihak yang mengetahui hal tersebut.
Sebelumnya, Mendiktisaintek Brian Yuliarto mengatakan sejumlah universitas di Indonesia saat ini terlibat riset pemurnian logam tanah jarang atau rare earth, mineral strategis yang kini menjadi rebutan di pasar global.
Selain itu, Brian menambahkan, beberapa universitas juga belakangan ikut terlibat dalam perhitungan potensi cadangan logam tanah jarang di sejumlah wilayah di Indonesia.
Brian mengatakan logam tanah jarang ditemukan sebagai produk samping pengolahan mineral di wilayah seperti Bangka Belitung, Mamuju, dan Sulawesi.
“Beberapa penelitian sudah berlangsung di beberapa kampus untuk menghitung cadangannya dan juga dilakukan proses pemurnian,” kata Brian dalam Konferensi Pers Nota Keuangan di Jakarta, Jumat (15/8/2025).
Proses pemurnian logam tanah jarang memerlukan teknologi tinggi, sementara akses terhadap metode pengolahan masih terbatas.
Komoditas ini banyak dibutuhkan oleh industri global, dengan China memanfaatkan posisinya sebagai produsen utama untuk kepentingan negosiasi perdagangan global.
Brian berharap keterlibatan perguruan tinggi dapat mendorong hilirisasi mineral tersebut, tetapi tantangan teknologi dan infrastruktur masih menjadi hambatan.
“Harapannya, dengan penelitian yang sedang berlangsung, logam tanah jarang bisa kita murnikan dan menjadi komoditas yang meningkatkan pendapatan,” kata Brian.
Logam tanah jarang digunakan dalam produksi turbin angin, kendaraan listrik, dan peralatan militer, sehingga ketersediaannya menjadi isu strategis sekaligus sensitif dalam perdagangan global.
Sebagai informasi, Presiden Prabowo Subianto menegaskan keinginannya mengembangkan logam tanah jarang atau rare earth elements (REE) dengan membentuk Badan Industri Mineral. Nantinya, pengelolaan LTJ hanya boleh dilakukan oleh negara.
Selain itu, badan baru itu akan terpisah dari Kemendiktisaintek dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Adapun, mengutip situs resmi Kementerian ESDM, LTJ atau REE merupakan kelompok unsur logam yang dalam tabel periodik termasuk ke dalam 15 unsur deret lantanida yaitu lanthanum (La), cerium (Ce), praseodymium (Pr), neodymium (Nd), promethium (Pm), samarium (Sm).
Lalu, europium (Eu), gadolinium (Gd), terbium (Tb), dysprosium (Dy), holmium (Ho), erbium (Er), thulium (Tm), ytterbium (Yb), dan lutetium (Lu). Ditambah dua unsur lain yakni scandium (Sc) dan yttrium (Y).
LTJ biasanya dijumpai pada berbagai jenis deposit seperti batuan beku peralkalin, deposit iron-oxide-copper-gold, intrusi batuan beku pegmatit, batuan metamorf, dan endapan sekunder berupa endapan aluvial laterit.
“Endapan logam tanah jarang terdiri atas endapan primer dan endapan sekunder. Endapan primer berkaitan erat dengan proses magmatik dan hidrotermal, sedangkan endapan sekunder berhubungan dengan aktivitas pelapukan dan endapan sedimentasi yang terbentuk pada berbagai lingkungan seperti sungai, pantai, kipas aluvial dan delta,” tulis Kementerian ESDM dalam situs resminya.
LTJ juga bisa terkumpul di sisa endapan mineral yang terbentuk di permukaan bumi, seperti pada nikel laterit, bauksit, dan timah plaser.
(azr/wdh)






























