Pernyataan yang saling bertolak belakang ini mencerminkan ketidakpastian yang dirasakan investor seiring meningkatnya ketegangan hubungan Washington dan Beijing. Saham AS memperpanjang kenaikan setelah pernyataan Bessent, sedangkan ucapan Trump muncul setelah perdagangan di New York ditutup.
Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer ragu Beijing akan melanjutkan rencana tersebut, yang menurutnya akan menghambat perdagangan berbagai produk konsumen yang mengandung logam tanah jarang, walaupun sedikit.
"Cakupan dan skalanya sungguh tak terbayangkan, dan tidak mungkin diimplementasikan," ungkap Greer.
Sementara itu, Bessent memperkirakan akan ada respons terkoordinasi dari AS dan beberapa sekutunya terhadap tindakan China.
"Kita akan memberi respons yang komprehensif dan terkoordinasi terhadap hal ini karena birokrat di China tidak mampu mengelola rantai pasokan atau proses manufaktur untuk seluruh dunia," beber Bessent pada Rabu sebelumnya di forum yang diselenggarakan CNBC di Washington.
Respons Terkoordinasi
Menyebut bahwa "semua rekan saya" ada di Washington untuk menghadiri pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia pekan ini, ia mengatakan, "Kami akan berbicara dengan sekutu-sekutu Eropa, Australia, Kanada, India, dan negara-negara demokratis Asia."
Eskalasi saling balas antara Washington dan Beijing kembali memicu kekhawatiran investor bahwa dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia ini akan segera terjebak dalam perang dagang besar-besaran.
Aturan baru China, yang diumumkan pekan lalu, mewajibkan perusahaan asing untuk mendapatkan persetujuan pemerintah China sebelum mengekspor produk yang mengandung, bahkan sedikit, logam tanah jarang China.
Trump membalasnya dengan mengancam akan memberlakukan tarif tambahan 100% pada barang-barang China paling lambat 1 November. Ia mengusulkan akan membatalkan pertemuan dengan Presiden Xi Jinping dan memperingatkan bahwa AS akan memutus perdagangan minyak goreng, bahan baku utama biofuel.
Menkeu Bessent mengatakan bahwa sejauh yang ia ketahui, Trump "sudah pasti" akan bertemu Xi akhir bulan ini di Korea Selatan. Dia mengatakan ada "kemungkinan besar" ia akan berkunjung ke Asia sebelum Trump dan bertemu dengan pejabat China, Wakil Perdana Menteri He Lifeng.
Lawatan Asia
Bessent memprediksi pengumuman dagang akan disampaikan saat Trump melawat ke Asia. Presiden diperkirakan akan menghadiri KTT Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) di Malaysia sebelum melanjutkan perjalanan ke Jepang dan Korea Selatan, yang menjadi tuan rumah pertemuan tahunan para pemimpin Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC).
AS "akan segera menyelesaikan" negosiasi dengan Korea Selatan. Pembicaraan tersebut belakangan ini fokus pada program investasi besar. Perundingan AS-Kanada "kembali ke jalur yang benar," kata Bessent. Dia juga mengindikasikan ada kemajuan dengan India.
Bessent menepis anggapan bahwa penurunan pasar saham akan memaksa pemerintahan Trump bernegosiasi dengan Beijing. Dia mengatakan pendorong pembicaraan tersebut justru merupakan kepentingan ekonomi negara. AS tidak akan bernegosiasi dengan China "karena pasar saham turun," ujarnya.
Dia juga menolak gagasan bahwa kenaikan harga emas mencerminkan kekhawatiran fundamental terkait dolar AS. Dia menekankan suku bunga AS telah turun dibandingkan dengan negara-negara lain, dan euro "seharusnya kuat," mengingat teori mata uang akan menunjukkan apresiasi nilai tukar saat ekspansi fiskal sedang berlangsung.
Pejabat 'Gila'
Bessent juga secara khusus mengkritik Wakil Menteri Perdagangan China, Li Chenggang, merujuk pada komentar yang dia sampaikan saat berkunjung ke Washington Agustus lalu. Dia mengatakan Li datang "tanpa diundang."
"Mungkin wakil menteri yang datang ke sini dengan bahasa yang sangat provokatif pada 28 Agustus telah bertindak gegabah," kata Bessent dalam konferensi pers di Departemen Keuangan. "Orang ini sangat tidak sopan," tegasnya, setelah sebelumnya menyebutnya "gila" dalam acara CNBC.
Li memperingatkan bahwa China akan "menyebabkan kekacauan global" jika AS melanjutkan rencana menarik biaya pelabuhan bagi kapal-kapal China. "Mungkin dia pikir dia prajurit serigala," kata Bessent, merujuk pada istilah untuk menyebut diplomat China yang agresif.
Bessent juga mengatakan China awalnya mengaitkan perlambatan pasokan magnet tanah jarang dengan hari libur—argumen yang menyiratkan "mereka tidak dapat dipercaya dalam mengelola rantai pasokan global."
"Jika China ingin menjadi mitra yang tidak dapat diandalkan bagi dunia, maka dunia harus memisahkan diri," ucapnya. "Dunia tidak ingin memisahkan diri," katanya. "Kami ingin mengurangi risiko. Namun, sinyal-sinyal seperti ini merupakan tanda pemisahan diri, yang kami yakini China tidak inginkan."
(bbn)


























