Logo Bloomberg Technoz

Dengan masih berlangsungnya proses evaluasi, Tri mengaku belum dapat mengungkap dugaan sementara penyebab terjadinya longsor tersebut.

“Penyebab intinya belum. Akan tetapi, runtuhan material basah itu memang terjadi, tetapi ya seperti apa ini, apakah dari atas karena hujan yang tinggi terus kemudian ada resapan dan lain sebagainya, kan mungkin juga,” ucap Tri.

Tri juga mengatakan telah memberikan tenggat kepada Freeport untuk mempercepat proses evaluasi kecelakaan yang dilakukan.

“Tenggat pasti kita kasih, tetapi evaluasinya, maksudnya ginilah, tenggat tetapi nanti asal-asalan ya jangan. Namun, secara komprehensif nanti mereka kita panggil untuk presentasi apa sebetulnya yang terjadi,” tegas dia.

Presiden Direktur Freeport Indonesia Tony Wenas menerangkan berhentinya operasi smelter di Gresik itu disebabkan karena kekosongan pasokan konsentrat tembaga setelah operasi tambang Grasberg ditangguhkan akibat insiden longsor di Grasberg Block Cave (GBC).

"Sekarang operasionalnya [smelter] bisa dikatakan berhenti karena konsentratnya enggak ada," kata Tony di Jakarta, Sabtu (11/10/2025).

Saat ini, PTFI masih melakukan investigasi terkait dengan penyebab longsoran material basah atau wet muck yang menewaskan tujuh pekerja. Perusahaan bekerjasama dengan inspektur tambang dari Kementerian ESDM untuk investigasi tersebut.

Adapun, operasi tambang Grasberg masih ditangguhkan sejak insiden longsor di GBC itu dilaporkan awal September 2025.

Tony mengatakan perseroannya masih mengkaji alternatif untuk mendorong tambang Grasberg bisa beroperasi kembali.

"Mudah-mudahan bisa kita segera beroperasi walaupun tidak dalam kapasitas penuh, supaya bisa ada konsentrat yang kita produksi untuk dikirim ke smelter-smelter juga," tambahnya.

Sebelumnya, Freeport-McMoRan (FCX) Inc., induk usaha PT Freeport Indonesia, memperkirakan operasi penuh di tambang bawah tanah Grasberg GBC baru dapat pulih sepenuhnya pada 2027.

Dalam keterangan resminya di New York Stock Exchange (NYSE), FCX menyebut insiden longsoran lumpur bijih telah merusak sejumlah infrastruktur pendukung produksi di area GBC.

Akibatnya, PTFI terpaksa menunda kegiatan produksi dalam jangka pendek pada kuartal IV-2025 hingga sepanjang 2026 di area tambang tersebut.

“Hingga perbaikan selesai dan restart bertahap dapat dilakukan. Tingkat operasi sebelum insiden berpotensi dicapai kembali pada 2027,” tulis Freeport-McMoRan Inc dalam keterangan resmi.

Menurut laporan Freeport-McMoRan Inc, badan bijih GBC mewakili 50% dari cadangan terbukti dan terduga PTFI per 31 Desember 2024, serta sekitar 70% dari proyeksi produksi tembaga dan emas hingga 2029.

Saat ini, PTFI memperkirakan tambang Big Gossan dan Deep MLZ yang tidak terdampak dapat kembali beroperasi pada pertengahan kuartal IV 2025, sementara pengembalian operasi bertahap tambang GBC dijadwalkan pada paruh pertama 2026.

Konsekuensinya, penjualan tembaga dan emas PTFI bakal terbatas pada kuartal IV-2025, jauh di bawah estimasi sebelumnya yaitu 445 juta pon tembaga dan 345.000 ons emas.

Sementara itu, pembukaan kembali kegiatan operasi GBC dimulai di tiga blok produksi di antaranya PB2 pada paruh pertama 2026, disusul PB3 dan PB1S pada paruh kedua 2026 dan PB1C menyusul pada 2027.

“Dalam skenario ini, produksi PTFI di 2026 berpotensi sekitar 35% lebih rendah dibandingkan dengan estimasi sebelumnya [sebanyak] 1,7 miliar pon tembaga dan 1,6 juta ons emas,” tulis manajemen Freeport McMoRan.

(azr/wdh)

No more pages