dr. Chintya mengutip berbagai penelitian internasional untuk memperkuat pernyataannya. Salah satunya adalah studi oleh Haberto Yose dari Brazil, yang menemukan hubungan antara polusi lalu lintas dan peningkatan kasus autisme serta ADHD.
Penelitian itu juga mencatat bahwa paparan PM 2,5 dapat menurunkan kemampuan atensi dan menyebabkan gangguan belajar pada anak usia 6–11 tahun.
Penelitian lain dari Fargatle di Amerika Serikat menyebut bahwa ibu hamil yang terpapar PM 2,5 dan PM 10 selama trimester ketiga memiliki risiko 2,2 kali lebih besar melahirkan anak dengan autisme. Sementara itu, risiko ADHD meningkat 11% pada anak yang tinggal di area dengan konsentrasi PM 10 tinggi.
Sebuah metaanalisis besar oleh Cerai, yang meninjau lebih dari 780 studi, juga menunjukkan adanya korelasi antara paparan PM 2,5 dan risiko autisme, dengan odds ratio sebesar 1,1%.
Meski secara statistik terlihat kecil, dr. Chintya menegaskan bahwa angka ini tidak bisa diabaikan karena dampak jangka panjangnya sangat signifikan bagi individu, keluarga, dan sistem kesehatan nasional.
“Penelitian terbaru juga menemukan bahwa polusi bisa mengganggu metabolisme mitokondria dan jalur biokimia tertentu dalam otak, yang diduga berperan dalam munculnya autisme,” tambahnya.
Di sisi lain, studi dari Brosten mencatat bahwa anak-anak yang tinggal di dekat lalu lintas padat menunjukkan performa akademik yang lebih rendah, terutama dalam pelajaran matematika dan membaca. Namun, dr. Chintya mengingatkan bahwa banyak studi ini masih bersifat observasional, sehingga tetap dibutuhkan penelitian lanjutan dengan metodologi yang lebih kuat.
Ia menekankan pentingnya langkah preventif, termasuk edukasi kepada ibu hamil, pemantauan kualitas udara, dan kebijakan lingkungan yang berpihak pada kesehatan masyarakat.
“Meski polusi tidak bisa dihindari sepenuhnya, kita tetap bisa meminimalkan dampaknya dengan meningkatkan kesadaran dan regulasi yang berpihak pada perlindungan generasi masa depan,” tutup dr. Chintya.
(dhf)





























