Dalam pemaparan tersebut disebutkan bahwa produksi bulan Oktober diperkirakan mencapai 87.265 ton sementara itu kebutuhan cabai nasional adalah sebesar 113,515 ton. Artinya perkiraan impor cabai yang perlu dilakukan di bulan ini mencapai 35.447 ton dengan neraca bulanan 9.198 ton.
Suwandi menyebut bahwa untuk memitigasi semakin mahalnya harga cabai, maka dilakukan kerjasama antar daerah.
Selain itu beberapa solusi jangka pendek lainnya juga dilakukan dengan memperlancar distribusi dari daerah surplus/ sentra ke daerah non sentra alias defisit, melakukan kerjasama dengan petani champion dan juga bersama tim teknis daerah mengawal distribusi pertanaman benih cabai
Meski cabai merah mencatatkan kenaikan, harga cabai rawit merah secara nasional justru berada di level Rp44.351 per kg. Angka ini turun 22,19% dibandingkan HAP nasional yang ditetapkan pada kisaran Rp40.000 hingga Rp57.000 per kg.
Komoditas hortikultura lainnya yakni bawang merah dan bawang putih bonggol kompak menunjukkan penurunan harga di bawah HAP.
Harga bawang merah tercatat Rp36.966 per kg lebih rendah 10,93% dari HAP nasional yang ditetapkan Rp36.500 per kg. Kemudian, bawang putih bonggol juga tercatat mengalami penurunan 9,41% menjadi Rp36.236 per kg dari HAP nasional senilai Rp38.000 hingga Rp40.000 per kg.
Harga Pangan Lainnya
Sementara itu, harga gula konsumsi dijual dengan rata-rata nasional sebesar Rp17.902 per kg, lebih tinggi 2,3% dibandingkan HAP nasional senilai Rp17.500 per kg.
Harga telur ayam ras dijual dengan harga rata-rata nasional sebesar Rp30.290 per kg, 0,94% di atas HAP nasional sebesar Rp30.000 per kg.
Sementara, Harga daging ayam ras tercatat juga turun 5,77% menjadi Rp37.691 per kg dari HAP nasional senilai Rp40.000 per kg.
Minyak goreng curah juga masih belum menunjukkan penurunan harga. Secara nasional, harga rata-rata berada pada angka Rp17.129 per liter, atau lebih tinggi 9,1% dibandingkan HET Minyakita yang ditetapkan sebesar Rp15.700 per liter.
Lalu, harga rata-rata beras premium di tingkat konsumen mencapai Rp15.914 per kg secara nasional. Harganya naik 6,81% dari HET nasional beras premium yang dipatok sebesar Rp14.900 per kg.
Kenaikan harga beras premium terjadi di semua wilayah, di zona 1 senilai Rp15.223 per kg, zona 2 senilai Rp16.309 per kg, dan zona 3 senilai Rp17.883 per kg. Adapun HET beras premium di zona 1 adalah Rp14.900 per kg, zona 2 senilai Rp15.400 per kg, dan zona 3 senilai Rp15.800 per kg.
Sementara itu, harga beras medium mulai menunjukkan penurunan di sejumlah wilayah. Namun secara rata-rata nasional naik tipis menjadi Rp13.618 per kg. Harga beras tersebut naik 0,87% dari HET nasional yang ada di level Rp12.500 per kg.
Harga rata-rata beras medium di zona 1 dibanderol Rp13.358 per kg, zona 2 senilai Rp13.733 per kg, dan zona 3 senilai Rp14.997per kg.
Harga rata-rata beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) atau beras Bulog turun tipis sebesar 0,05% dari HET nasional Rp12.500 per kg menjadi Rp12.506 per kg di tingkat konsumen.
Harga rata-rata beras SPHP di semua wilayah kompak di bawah HET. Secara terperinci, beras SPHP di zona 1 adalah Rp12.208 per kg, zona 2 senilai Rp12.782 per kg, dan zona 3 senilai Rp13.163 per kg.
(ell)






























