Logo Bloomberg Technoz

“Menyetujui perubahan Pasal 3 Anggaran Dasar Perseroan untuk menghapus kegiatan usaha industri alat kaki untuk kebutuhan sehari-hari," sebut perseroan dalam risalah rapat dalam keterbukaan di Bursa Efek Indonesia.

Meski dengan brand awareness yang cukup kuat dan dengan berbagai upaya ekspansi yang dilakukan oleh perusahaan melalui penjualan sepatu secara online, nyatanya hal ini tak menolong perusahaan sepatu tersebut untuk bertahan.

Terlebih dengan adanya pandemi Covid, yang disebut oleh perusahaan menjadi salah satu pemberat bisnis perseroan dalam beberapa tahun terakhir.

“Kegiatan operasional Grup dipengaruhi oleh melemahnya permintaan pasar dalam negeri pasca pandemi Covid-19 dan ketatnya persaingan di pasar alas kaki. Grup juga telah menghentikan penjualan melalui beberapa gerai ritel.” sebut Perusahaan dalam Laporan Keuangan Perusahaan Kuartal II-2025.

Bahkan, di tahun 2024 silam, perusahaan alas kaki ini musti melakukan PHK ke 233 buruh akibat penutupan pabrik di Purwakarta. Perusahaan bilang PHK ini telah disetujui oleh semua pihak dan kewajiban telah dibayarkan pada Mei 2024 silam.

Imbasnya, di akhir 2024, jumlah pegawai bata hanya tersisa 67 pekerja saja. Kontras dengan jumlah pekerja di tahun 2023 sebanyak 366 karyawan.

Bata juga melaporkan kerugian sebesar Rp148,2 miliar di tahun 2024 dan defisiensi modal sebesar Rp15,9 miliar pada tanggal tersebut. Selain itu, pada tanggal yang sama, total liabilitas jangka pendek Bata melebihi total aset lancar sebesar Rp115,4 miliar, artinya current ratio Bata di tahun tersebut menjadi negatif.

Bata juga mengatakan bahwa rencana restrukturisasi dari perusahaan juga akan dilakukan dengan menutup atau berencana tak lagi mengoperasikan lebih dari 200 gerai yang merugi untuk kembali memiliki jaringan gerai yang menguntungkan.

(ell)

No more pages