Faktanya, keterampilan ini justru lebih baik dipupuk sejak masih sekolah atau kuliah. Anak muda yang terbiasa mencatat pengeluaran dan menetapkan prioritas akan lebih siap menghadapi kehidupan dewasa.
Dari uang jajan sederhana, mereka dapat belajar menyusun kebutuhan, membatasi keinginan, dan membiasakan diri menabung.
Kebiasaan kecil ini, jika dijalankan secara konsisten, akan memberikan dampak positif yang besar ketika mereka sudah memiliki penghasilan sendiri.
Pahami Arus Uang Masuk dan Keluar
Langkah pertama dalam mengatur keuangan adalah mengenali pola pemasukan dan pengeluaran. Misalnya, seorang mahasiswa menerima Rp1 juta per bulan.
Jika setiap pekan ia menghabiskan Rp150 ribu untuk nongkrong, maka dalam empat minggu, hampir seluruh uang jajan tersedot hanya untuk satu aktivitas.
Mencatat pengeluaran menjadi solusi efektif untuk mengetahui titik kebocoran. Saat ini, berbagai aplikasi pencatat keuangan tersedia di ponsel pintar.
Bahkan catatan sederhana di aplikasi notes sudah cukup membantu. Dengan begitu, anak muda bisa lebih sadar ke mana uang mereka mengalir setiap bulannya.
Bedakan Antara Kebutuhan dan Keinginan
Kunci utama agar uang tidak cepat habis adalah kemampuan membedakan kebutuhan dengan keinginan. Kebutuhan mencakup makan sehari-hari, biaya transportasi, buku kuliah, dan kuota internet.
Sementara itu, nongkrong berulang kali, membeli kopi mahal setiap hari, atau menambah koleksi fashion padahal lemari sudah penuh, jelas masuk kategori keinginan.
Bukan berarti keinginan harus dihapus sepenuhnya. Namun, prioritas harus jelas. Anak muda tetap bisa menikmati hiburan, tetapi jangan sampai mengorbankan hal-hal yang lebih penting. Sikap disiplin ini menjadi fondasi utama untuk membangun kestabilan finansial sejak dini.
Membuat Pos-Pos Keuangan
Begitu uang jajan diterima, ada baiknya langsung dibagi ke dalam beberapa pos. Misalnya, 50 persen untuk kebutuhan pokok, 20 persen untuk keperluan pendidikan atau hal produktif, 20 persen untuk hiburan, dan 10 persen untuk tabungan darurat.
Meski persentase bisa disesuaikan, sistem ini membantu anak muda mengontrol diri agar tidak menghabiskan semua uang di awal bulan.
Dengan adanya pembagian jelas, mereka akan lebih mudah menentukan batas pengeluaran di setiap kategori.
Cara Hemat Bukan Berarti Pelit
Stigma gengsi sering membuat anak muda merasa malu untuk hidup hemat. Padahal, hemat tidak sama dengan pelit.
Membawa bekal dari rumah, menggunakan transportasi umum, memanfaatkan promo aplikasi, atau meminjam buku perpustakaan justru merupakan pilihan cerdas. Jika setiap hari seseorang bisa menghemat Rp10 ribu, maka dalam sebulan sudah terkumpul Rp300 ribu.
Jumlah itu bisa digunakan untuk kebutuhan mendesak atau ditabung untuk tujuan jangka panjang. Strategi hemat kecil-kecilan mampu memberikan efek besar jika dilakukan secara konsisten.
Waspada terhadap FOMO
Salah satu penyebab boros di kalangan anak muda adalah fenomena Fear of Missing Out (FOMO). Demi mengikuti tren, mereka rela menghabiskan uang untuk nongkrong, membeli barang kekinian, atau ikut-ikutan gaya hidup yang sebenarnya tidak sesuai kondisi finansial.
Belajar mengatakan “tidak” menjadi keterampilan penting. Teman sejati seharusnya memahami bahwa kondisi setiap orang berbeda.
Menolak ajakan bukan berarti tidak gaul, melainkan langkah bijak agar tidak terjebak dalam siklus pengeluaran yang berlebihan.
Disiplin Adalah Kunci
Mengatur keuangan bukan sekadar teori, melainkan praktik konsisten sehari-hari. Anak muda perlu membiasakan diri mencatat pengeluaran, menahan diri dari belanja impulsif, serta menyusun rencana bulanan.
Disiplin dalam hal kecil ini akan melatih mental untuk lebih bertanggung jawab terhadap uang di masa depan.
Ketika sudah memiliki penghasilan sendiri, kebiasaan ini akan membantu mereka mengelola gaji dengan lebih terstruktur. Mereka tidak akan kaget menghadapi kebutuhan hidup yang semakin kompleks.
Dampak Positif yang Terbawa ke Masa Depan
Kemampuan mengatur keuangan sejak dini bukan hanya soal bertahan hidup dengan uang jajan terbatas.
Lebih dari itu, ini adalah investasi karakter. Anak muda yang terbiasa menabung akan lebih siap menghadapi keadaan darurat.
Selain itu, mereka akan memiliki pola pikir realistis terhadap gaya hidup. Bukan sekadar mengikuti tren, melainkan menyesuaikan dengan kemampuan. Sikap ini sangat penting agar terhindar dari masalah utang konsumtif di masa dewasa.
Peran Orangtua dan Lingkungan
Orangtua juga memiliki peran penting dalam mendidik anak tentang keuangan.
Memberikan uang jajan dengan jumlah yang sesuai, serta mengajarkan cara mencatat pengeluaran, akan membantu anak memahami nilai uang.
Lingkungan pertemanan pun turut memengaruhi. Jika teman-teman lebih mengutamakan gengsi, godaan untuk boros akan semakin kuat.
Namun, jika dikelilingi oleh orang-orang yang bijak secara finansial, anak muda lebih mudah menerapkan kebiasaan baik.
Uang Jajan Bukan Sekadar Nominal
Pada akhirnya, mengatur uang jajan bukan hanya soal jumlah yang diterima. Lebih penting adalah bagaimana anak muda membentuk pola pikir finansial yang sehat.
Dengan mencatat, memprioritaskan, dan berdisiplin, mereka tidak hanya mampu bertahan hingga akhir bulan, tetapi juga mempersiapkan diri untuk masa depan yang lebih mandiri.
Uang memang mudah habis jika tidak dijaga. Namun, dengan kebiasaan baik yang dibentuk sejak masih menerima uang saku, kehidupan akan lebih tenang dan terhindar dari stres finansial setiap akhir bulan.
(seo)




























