Logo Bloomberg Technoz

Dengan rerata harga jual yang meningkat lebih cepat daripada pengiriman, peningkatan gabungan ini diperkirakan bakal mendorong pendapatan ponsel pintar naik hampir 6% yoy pada 2025. Dalam jangka panjang, momentum ini diperkirakan akan mempertahankan CAGR pendapatan senilai 5% sampai 2029, sehingga mencapai pendapatan smartphone global tahunan sebesar US$564 miliar atau setara dengan Rp9.373 triliun.

Prakiraan ASP Pasar Smartphone Global 2022-2029

Seusai bertahun-tahun mengalami disrupsi, mulai dari fluktuasi permintaan di era pandemi Covid-19, tantangan rantai pasokan, hingga volatilitas akibat tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump baru-baru ini, pasar ponsel pintar mulai kembali normal. Operator AS terus berpromosi agresif, persediaan tak menumpuk, dan produsen peralatan asli atau original equipment manufacturer (OEM) tetap berpegang pada siklus peluncuran serta strategi pengadaan reguler mereka.

Prospek pasar smartphone memperlihatkan pasar yang lebih 'normal' hingga paruh kedua tahun ini dan sampai 2026, memperkuat perkiraan Counterpoint bahwa pertumbuhan rerata harga jual dan volume yang stabil bakal menopang ekspansi pendapatan. Ponsel pintar sejauh ini sebagian besar terbebas dari kenaikan tarif yang dikenakan AS terhadap mitra dagang dan relatif terisolasi, dibandingkan dengan sektor-sektor seperti otomotif, semikonduktor, dan elektronik konsumen lainnya.

Namun, ketidakpastian perdagangan akibat tarif AS, ditambah dengan kondisi makro ekonomi yang lebih lemah, dapat memperumit situasi di masa mendatang. Di samping itu, pengiriman di Amerika Utara diperkirakan akan turun pada H2 2025, sesudah peningkatan yang signifikan pada paruh pertama tahun ini, sementara penerapan tarif lanjutan bakal meningkatkan rerata harga jual keseluruhan sebesar 7% yoy pada 2025.

Model premium Apple, promosi berkelanjutan dari operator seluler, dan perangkat lipat diperkirakan bakal meningkatkan rerata harga jual menjadi sekitar US$984 atau sekitar Rp16,3 juta pada 2026. Dalam jangka panjang, AS akan memainkan peran stabilisasi dalam menjaga harga jual rata-rata global tetap tinggi, tetapi kontribusinya terhadap pertumbuhan ASP hingga 2029 bakal lebih bertahap karena sudah menjadi pasar premium. Counterpoint tak memperkirakan kenaikan mendadak lainnya, karena kondisi perdagangan seperti kenaikan tambahan akan diserap oleh vendor, distributor, dan konsumen.

Di China, Counterpoint memperkirakan untuk Q2 2025 menunjukkan lintasan harga jual rata-rata yang sedikit lebih rendah daripada Q1, dengan pertumbuhan rerata harga jual smartphone direvisi menjadi 3,6% yoy pada 2025 dari estimasi sebelumnya senilai 4%. Harga jual rata-rata ini terutama didorong oleh Huawei, OPPO, dan Vivo. ASP Apple di China kini diperkirakan tumbuh sebesar 2% yoy pada tahun ini, dibandingkan dengan proyeksi Q1 sebelumnya yang memproyeksikan penurunan.

Peningkatan rerata harga jual ini sebagian besar didorong oleh penjualan model Pro yang lebih baik, meskipun terjadi sedikit penurunan pengiriman. Dalam jangka panjang, pergeseran pasar premium di China bakal mendorong harga jual rata-rata global ke level yang lebih tinggi sekaligus meningkatkan perannya di segmen premium pasar ponsel pintar global.

Selanjutnya, India akan terus mendukung segmen kelas menengah, dengan rerata harga jual tetap di bawah US$250 atau setara dengan Rp4,1 juta pada 2025, tetapi meningkat secara bertahap di tengah premiumisasi hingga mencapai US$287 atau sekitar Rp4,7 juta pada 2029 mendatang. Migrasi yang berkelanjutan dari fitur ponsel, meningkatnya permintaan di daerah pedesaan dan semi-perkotaan, serta terdapat kenaikan adopsi digital bakal memberikan momentum yang stabil bagi smartphone kelas menengah dan premium.

Apple tetap menjadi jangkar rerata harga jual premium, yang diproyeksikan naik dari US$919 atau sekitar Rp15,2 juta pada tahun ini menjadi hampir US$1.000 atau setara dengan Rp16.621 T pada 2029, didorong oleh campuran model Pro dan dasar (basic), termasuk jajaran “e” dan “Air” terbaru. iPhone 16e menyebabkan kontraksi harga jual rata-rata sebesar 9% yoy pada Q1 2025, namun ASP diperkirakan akan membaik dengan adopsi model Pro pada semester II 2025.

Apple secara sengaja mengejar strategi ganda–di sisi pengiriman, mereka memperluas basisnya, dengan iPhone e dan iPhone Air memasuki pasar negara berkembang dan segmen konsumen.  Sementara di sisi rerata harga jual, perusahaan teknologi tersebut memperkuat dominasi kelas atasnya dengan model Pro, seraya mempersiapkan peningkatan dari perangkat lipat pertamanya pada 2026.

Dalam jangka panjang yakni pada 2026-2029, AS, China, dan Eropa bakal terus memegang pangsa tertinggi untuk Apple. Sementara pasar yang sensitif terhadap harga LATAM, MEA, dan India akan menyaksikan pertumbuhan pengiriman yoy yang lebih tinggi didorong oleh model basic iPhone dan generasi lama.

Kemudian, profil harga jual rata-rata Samsung bakal tetap stabil. Performa flagship yang lemah di H1 2025 akan menurunkan rerata harga jual keseluruhannya untuk 2025, meskipun adopsi perangkat lipat dan AI generatif atau gen AI bakal mendukung pertumbuhan jangka panjang. Di sisi lain, eksposur perusahaan asal Korea Selatan (Korsel) tersebut yang signifikan terhadap segmen menengah di pasar negara berkembang akan membatasi potensi pertumbuhan harga jual rata-rata.

Pemain Android lainnya seperti Xiaomi, OPPO, dan Vivo pun tengah mengejar strategi premiumisasi, tetapi permintaan yang lemah di China dan kinerja yang moderat di India membuat pertumbuhan ASP relatif rendah pada tahun ini.

Prediksi CAGR untuk Merek Smartphone Global Terkemuka 2025-2029

Setelah kebangkitannya, Huawei memperkuat pertumbuhan rerata harga jual di pasar domestiknya, China. Dengan berkurangnya kendala rantai pasokan atas cip (chip) yang dikembangkan sendiri, seri Mate dan P Huawei membantu meningkatkan harga jual rata-ratanya. ASP ini makin didukung oleh adopsi perangkat lipat Huawei yang dinilai kuat, yang memperoleh daya tarik yang baik.

Loyalitas sistem operasi milik Huawei, HarmonyOS, memungkinkan penetapan harga premium, meskipun ekspansi di luar China masih terbatas. Pada 2024-2025, kemunculan smartphone berbasis gen AI menyebabkan kenaikan biaya daftar harga bahan baku atau bill of materials (BoM) sekitar US$40-US$60 (Rp664.532-Rp996.798) per perangkat. Seiring kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) makin matang, pertumbuhan rerata harga jual bakal bergeser dari biaya inflasi menjadi nilai yang dirasakan, karena konsumen akan lebih bersedia membayar untuk perangkat yang mengutamakan AI.

Meskipun smartphone lipat masih menyumbang kurang dari 2% dari pengiriman global, harga jual rata-ratanya mendorong rerata lebih tinggi dan membentuk persepsi konsumen terhadap kelas premium. Perangkat lipat yang diharapkan dari Apple pada akhir 2026 dapat memicu lonjakan rerata harga jual, sekaligus mengatur ulang tolok ukur industri perangkat lipat.

Secara keseluruhan, proyeksi harga jual rata-rata ponsel pintar global tampak sedikit positif. Saat ini volatilitas tarif mereda, rantai pasokan mulai stabil, dan keseimbangan adopsi smartphone premium, gen AI, dan inovasi perangkat lipat bakal terus menunjukkan momentum kenaikan yang moderat. Pertumbuhannya diprediksi tak akan eksplosif, melainkan normal, di mana rerata harga jual ponsel pintar akan terus meningkat meskipun ada hambatan makro.

Masih melansir laporan Counterpoint pada kuartal ketiga 2025, tingkat pertumbuhan tahunan majemuk Samsung diperkirakan bakal tumbuh sebesar 6% pada 2029 dari tahun ini. Diikuti Vivo dan Xiaomi masing-masing 4%, Huawei 3%, serta Oppo dan Apple masing-masing diprediksi naik sekitar 2% pertumbuhan CAGRnya dari 2025 hingga 2029 mendatang.

(lav)

No more pages