“Tindakan Petro telah membawa Kolombia menuju isolasi internasional, dan menempatkan hubungan dengan sekutu strategis pada risiko serius,” ujar Mario Carvajal, analis politik dari konsultan IDDEA. “Namun, Petro tampaknya lebih sibuk membangun konfrontasi demi memperkuat retorika anti-sistemnya, sekaligus meraih sorotan internasional.”
Pemimpin Kolombia itu memang menjadi salah satu pengkritik paling keras perang di Palestina. Ia memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel, menuding Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sebagai pelaku “genosida”, serta melarang ekspor ke negara tersebut.
Dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB, Petro melancarkan gelombang kritik terhadap AS. Ia menilai perang melawan narkoba telah gagal, mendesak investigasi terhadap Trump terkait operasi militer di Karibia yang diduga menargetkan pengedar narkoba, serta mengecam dukungan Washington terhadap serangan Israel di Palestina.
Keputusan AS mencabut sertifikasi Kolombia sebagai mitra dalam perang melawan narkoba membuat negara itu kini sejajar dengan Venezuela, Bolivia, Afghanistan, dan Myanmar. Langkah ini diambil di tengah lonjakan produksi kokain terbesar dalam sejarah, di mana sebagian besar pasokan dunia berasal dari Kolombia.
Kolombia akan menggelar pemilihan presiden tahun depan. Banyak investor memperkirakan arah politik negeri itu akan bergeser ke kanan dan melahirkan kebijakan yang lebih ramah pasar.
(bbn)




























