Meski lebih rendah dibanding tarif sekitar US$90.000 untuk rute Timur Tengah–China, perjalanan dari Amerika Serikat setidaknya dua pekan lebih lama, sehingga total biaya menjadi lebih besar.
Arus arbitrase, yakni pengiriman minyak dari kawasan seperti AS ke Asia untuk memanfaatkan selisih harga dan biaya, masih mewarnai perdagangan spot dalam beberapa bulan terakhir.
Jalur ini masih tergolong ekonomis, tercermin dari pembelian minyak West Texas Intermediate oleh Bharat Petroleum Corp. India pekan ini, namun tren itu diperkirakan tak bertahan lama.
“Dengan OPEC mulai melonggarkan kuota, kami melihat lebih banyak kargo masuk ke kawasan timur Terusan Suez,” kata Ed Finley-Richardson, analis pengapalan dan pendiri Contango Research.
“Pemilik kapal optimistis dengan prospek di kawasan itu, sehingga lebih memilih tetap berada di Timur,” ujarnya.
Sebagian trader juga menyoroti pelemahan cepat indikator pasar minyak Timur Tengah, termasuk penyempitan timespread acuan Dubai dan menurunnya diferensial untuk jenis Oman serta Murban.
Hal ini membuat minyak dari negara-negara Teluk Persia lebih murah dibandingkan kargo asal Amerika yang lebih jauh.
Di sisi lain, ketika OPEC dan sekutunya menambah pasokan global, muncul sinyal awal pengetatan di AS. Stok minyak mentah nasional turun untuk pekan kedua berturut-turut, menyentuh level terendah sejak Januari, menurut data pemerintah.
(bbn)




























