Logo Bloomberg Technoz

Sementara itu, dari sisi perbankan, Irman mengingatkan kebijakan ini justru dapat meningkatkan biaya dana dolar secara signifikan. Lantaran menurutnya, bunga deposito valas yang naik menjadi 4% membuat biaya dana bank naik dan menekan keuntungan Himbara. 

Berbanding terbalik dengan kebijakan pemerintah sebelumnya yang menempatkan Rp200 triliun di bank dengan tujuan menurunkan biaya dana.

Oleh karena itu, Irman menilai walau kebijakan ini bisa mendorong dolar masuk ke sistem keuangan domestik, tetapi juga menyimpan dampak negatif. 

Pertama, ada risiko dolarisasi aset karena pelaku ekonomi akan lebih memilih menempatkan simpanannya dalam dolar ketimbang rupiah. Ia merujuk pada studi literatur dunia yang menunjukkan, ekonomi yang terdolarisasi justru lebih rentan terhadap krisis keuangan.

Kedua, kebijakan ini berpotensi memicu persaingan tidak sehat di perbankan. Sebagai price leader, Himbara bisa memaksa bank lain ikut menaikkan bunga deposito valas agar tidak kehilangan likuiditas dolar. Kondisi ini bisa berujung pada perang bunga di sektor perbankan.

Ketiga, kebijakan ini berisiko memperlemah rupiah. Alih-alih memperkuat, kenaikan bunga deposito valas justru dapat menjadi boomerang sebab hal tersebut mendorong pelaku ekonomi atau nasabah mengkonversi simpanannya dari rupiah ke dolar. 

"Kebijakan ini juga dapat memberikan sentimen negatif bagi investor karena terkesan hopeless (dicerminkan dari bunga valas > rupiah)."

Selain itu, kebijakan bunga tinggi ini juga dapat menghambat transmisi kebijakan moneter. Sepanjang 2025, Bank Indonesia menempuh kebijakan akomodatif untuk menurunkan biaya kredit. Namun, bila biaya dana valas melonjak, ruang penurunan bunga kredit ikut terhambat.

Importir juga bisa terkena dampak. Dengan kebutuhan pembiayaan impor Indonesia yang besar, biaya kredit dolar yang mahal akan menaikkan ongkos impor. Akibatnya, harga barang impor bisa lebih tinggi, diperburuk pelemahan nilai tukar rupiah.

Bagi sektor perbankan, risiko penurunan profitabilitas juga mengintai. Naiknya biaya dana bisa menekan net interest margin (NIM). Jika NIM turun, harga saham perbankan bisa ikut melemah, sehingga dividen yang dibagikan ke investor pun berkurang.

Untuk solusi cepat (quick win), Irman menyarankan optimalisasi deposito DHE valas di Bank Indonesia dengan insentif pajak 0% untuk semua tenor. Sedangkan dalam jangka panjang, pemerintah perlu memperbaiki struktur current account agar ekspor bernilai tambah tumbuh dan cadangan devisa makin kuat.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga independensi Bank Indonesia. "Hindari kebijakan yang memberi kesan campur tangan politik (misalnya penambahan wewenang berlebihan atau pemangkasan prosedur pencopotan dewan gubernur) karena menurunkan kepercayaan investor dan menekan rupiah seperti yang diberitakan banyak media asing belakangan ini," pungkasnya. 

(ain)

No more pages