“Apabila statistiknya bisa naik terus, kami memperkirakan bisa mencapai figur yang warna merah. Jadi target 1.800 ton Sn per bulan bisa tercapai. Jadi dari mulai Agustus, September, Oktober, November, Desember; empat bulan ini,” kata Restu dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR, dikutip Selasa (23/9/2025).
“Bahkan, dengan perkuatan Satgas Nanggala yang sekarang sudah mulai bergabung dengan kami, itu kami berharap atau sangat optimis untuk bisa mencapai 6.500 ton per bulan,” tegas dia.
Restu menargetkan produksi bulanan TINS dapat melonjak hingga 6.500 ton Sn per bulan usai didukung oleh Satgas TNI, target tersebut dipatok perseroan mulai terealisasi pada Oktober 2025 hingga Desember 2025.
“Sehingga sampai dengan empat bulan terakhir, September, Oktober, November, Desember; kami bisa mencapai target,” tegas dia.
Target 2026
Atas target yang dicanangkan tersebut, Restu juga optimistis perseroan bisa memproduksi bijih timah mencapai 30.000 tin Sn pada tahun depan. Proyeksi itu naik 39,53% dari posisi target yang dipatok tahun ini sebanyak 21.500 ton Sn.
“Kami sangat yakin dengan posisi pencapaian empat bulan terakhir, kami bisa mencapai 30.000 ton target untuk tahun ke depan. Jadi sampai dengan Desember 2026 untuk mencapai 30.000 ton,” ucap dia.
Selain itu, Restu menambahkan, perseroannya turut mendorong kegiatan penambangan legal dari masyarakat yang dibentuk di bawah payung koperasi.
Dia menuturkan perseroannya saat ini telah membentuk 30 koperasi yang melakukan kegiatan penambangan legal di bawah izin usaha pertambangan (IUP) TINS. Perinciannya, 10 koperasi karyawan, 10 koperasi tambang, dan 10 koperasi nelayan.
Ke depan, Restu menargetkan perseroan dapat membentuk 100 hingga 300 koperasi untuk mendukung pemberdayaan masyarakat di sekitar tambang milik TINS.
“Mudah-mudahan bisa lebih banyak lagi, 100 koperasi, 200 koperasi atau 300 koperasi yang dibutuhkan,” kata dia.
Restu menjelaskan perusahaan juga akan menertibkan kolektor yang mencuri di wilayah IUP PT Timah. Ia menjelaskan, kolektor tersebut akan dibina sehingga mengelola usaha secara legal.
“Kami bina dengan baik. [Pihak] yang tidak mau, atau tidak mampu, atau karena selama ini puluhan tahun lebih paham cara-cara ilegal, karena dapat uang banyak, tidak harus bayar pajak dan sebagainya, maka kami akan keluarkan dari wilayah IUP PT Timah,” tegas dia.
Sampai dengan semester I-2025, TINS mencatat produksi bijih timah sebesar 6.997 ton Sn atau turun 32% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sejumlah 10.279 ton Sn.
Koreksi produksi itu disebabkan karena belum optimalnya aktivitas penambangan baik di darat maupun di laut, dampak cuaca angin utara dan angin tenggara, kondisi cadangan tidak menurus (spotted) dan kegiatan penambangan ilegal.
Konsekuensinya, produksi logam timah ikut terkoreksi 29% menjadi 6.870 metrik ton dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 9.675 metrik ton.
Sementara itu, penjualan logam timah turun 28% menjadi 5.983 metrik ton dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 8.299 metrik ton.
Di sisi lain, harga jual rata-rata logam timah sebesar US$32.816 per metrik ton, naik 8% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$30.397 per metrik ton.
(azr/wdh)




























