Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, ia menyatakan terdapat potensi penumpukan deposit di injektor, filter, dan ruang bakar yang lebih besar akibat penggunaan biodiesel dengan campuran FAME tinggi. Hal ini, dipandang bisa menurunkan performa mesin dan meningkatkan biaya perawatan.

Road test yang dipercepat tidak memberi cukup waktu untuk mengevaluasi dampak jangka panjang, terutama pada mesin kendaraan berat seperti truk, bus yang beroperasi dalam siklus panjang,” ungkap Akhmad.

Infrastruktur Distribusi 

Selain itu, Akhmad menyatakan biodiesel bersifat lebih mudah menyerap air dan rentan teroksidasi. Walhasil, jika standar kualitas distribusi belum konsisten terhadap risiko timbulnya mikroba atau sludge dalam tangki penyimpanan dan sistem bahan bakar.

“Di wilayah dingin atau pegunungan, biodiesel tinggi berpotensi mengalami masalah cold flow yakni mengental atau membeku sehingga mengganggu suplai bahan bakar,” tegas dia.

Di sisi lain, fasilitas penyimpanan BBM dipandang perlu dipastikan kompatibel dengan B50. Jika belum siap, terdapat risiko terjadi kontaminasi silang atau degradasi bahan bakar selama distribusi.

“Jika transisi ke B50 dilakukan tergesa-gesa lalu menimbulkan masalah mesin atau distribusi, dampaknya bukan hanya teknis, tetapi juga psikologis: kepercayaan publik pada program biodiesel bisa turun. Padahal, ini program strategis jangka panjang,” pungkas dia.

Untuk diketahui, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membeberkan uji coba atau road test mandatori biodiesel B50 bakal memakan waktu 6 hingga 8 bulan, dan belum berjalan hingga awal Agustus 2025. B50 padahal ditargetkan meluncur pada 2026.

Dalam perkembangannya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membuka peluang menunda implementasi mandatori biodiesel B50, yang semula ditargetkan mulai pada 2026, dan menggantinya dengan B45.

Akan tetapi, keputusan tersebut baru dapat ditentukan ketika uji coba atau road test biodiesel B50 telah dirampungkan. Dia memastikan kementerian sedang menjalankan uji coba tersebut dan sedang menunggu hasilnya.

“Kita sekarang sedang uji coba, sekarang kan B40 sudah berjalan, alhamdulillah bagus. Ke depan, kita akan dorong untuk di B50, tetapi sekarang kita lagi uji coba. Apakah B45 dulu baru B50, atau langsung? Nanti tunggu hasil uji cobanya,” kata Bahlil kepada awak media, di Kompleks Istana Kepresidenan, dikutip Jumat (12/9/2025).

Bahlil menyatakan uji coba B50 yang dilakukan telah memasuki tahap ketiga, tetapi dia belum bisa mengungkapkan kapan proses road test tersebut dirampungkan.

Terpisah, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi tidak menampik selama ini pemerintah belum pernah melakukan uji coba maupun road test terhadap biodiesel B45. 

“B45 itu kita enggak pernah melakukan testing, tetapi ini ada kajian memang di segmen 5 juga. Jadi kita menunggu kajian juga. Kemarin kajian baru pralaporan. Kita masih kritisi banyak, karena asumsi-asumsi yang dipakai itu untuk kajian yang dilakukan oleh BPDP itu kurang, apa ya, mengambil angka-angkanya itu belum pas gitu,” ujarnya ditemui di JCC, Rabu (17/9/2025).

Untuk itu, Eniya mengaku Kementerian ESDM sedang menggandeng para pakar dari universitas, staf khusus, serta staf ahli untuk menguji performa B45. 

Adapun, kata Eniya, beberapa parameter B45 yang juga tengah dikaji dan dikritisi oleh Kementerian ESDM mencakup besaran harga atau biaya minyak sawit sebagai bahan baku, kebutuhan insentif, pungutan ekspor, bea keluar, dan sebagainya.

Sekadar catatan, mandatori biodiesel B40 telah beberapa kali dikeluhkan oleh berbagai pelaku industri sektor pertambangan mineral dan batu bara. Mandatori tersebut padahal akan makin ditingkatkan menjadi B50 awal tahun depan.

Sejumlah pengusaha pertambangan menyatakan mandatori biodiesel B40 membuat ongkos produksi tambang meningkat sebab biaya pembelian bahan bakar menjadi naik.

Selain itu, sejumlah perusahaan penyedia kendaraan alat berat memiliki kebijakan bahwa garansi yang diberikan tidak berlaku bagi penggunaan biodiesel dengan campuran FAME kelapa sawit di atas 10%.

(azr/wdh)

No more pages