Logo Bloomberg Technoz

Kebijakan Ekspansif

Pemerintah kini lebih agresif. Dana Rp200 triliun yang sempat mengendap di Bank Indonesia dipindahkan ke bank-bank milik negara agar bisa disalurkan menjadi kredit. Stimulus tambahan senilai lebih dari Rp16 triliun juga digelontorkan untuk program padat karya, UMKM, bantuan sosial, hingga insentif pariwisata.

“Pemerintah tidak lagi menahan diri, melainkan mengadopsi sikap ekspansif. Dana sebesar 200 triliun rupiah yang sebelumnya mengendap di Bank Indonesia digeser ke bank-bank milik negara agar bisa segera disalurkan menjadi kredit,” jelas David.

Bank Indonesia pun mengambil langkah mengejutkan dengan memangkas suku bunga acuan menjadi 4,75 persen, berlawanan dengan ekspektasi banyak ekonom. “Keputusan ini membawa kejutan positif, karena menurunkan biaya pinjaman, memperbesar ruang konsumsi, dan memberi dorongan bagi pasar modal,” tambahnya.

Respons Pasar dan Tantangan

Kebijakan ini langsung direspons positif oleh pasar modal. IHSG tembus rekor baru di level 8.025,18. “Sinergi fiskal dan moneter ini menjadi titik tolak lahirnya babak baru. Pasar modal segera merespons dengan pergerakan positif bahkan IHSG mencapai rekor tertinggi di 8025,18,” kata David.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa jalan menuju ekonomi ekspansif tidak selalu mulus. “Tantangan masih membayangi, mulai dari ketidakpastian global, tekanan akibat rendahnya inflasi yang mencerminkan lemahnya permintaan, hingga penurunan aktivitas ekonomi domestik. Karena itu, transparansi kebijakan serta konsistensi dalam pelaksanaannya menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan.”

Harapan Baru

Meski ada tantangan, tanda-tanda awal sudah terlihat jelas. Rupiah tetap stabil, belanja pemerintah meningkat, dan stimulus digelontorkan. “Indonesia kini berada di persimpangan yang menentukan, dan pilihan kebijakan yang lebih berani memberi alasan untuk optimis,” ujar David.

Ia menutup dengan pesan optimisme di bawah pemerintahan Presiden Prabowo. “Selamat datang Ekonomi Ekspansif. Inilah era baru dibawah pemerintahan Presiden Prabowo ketika kebijakan fiskal dan moneter bertemu dalam satu irama, mendorong roda perekonomian agar bergerak lebih kencang, memperpanjang masa ekspansi, dan memberi harapan bahwa pertumbuhan kali ini bisa dirasakan lebih merata oleh seluruh rakyat Indonesia.”

(red)

No more pages