Sebelumnya, Bahlil menyatakan proyek PLTS 100 GW tersebut akan melibatkan investor asing. Hal tersebut diungkapkan Bahlil usai melakukan rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (15/9/2025).
“Pasti [melibatkan investor asing], karena solar panel 100 GW itu kan cukup besar,” kata Bahlil kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan, dikutip Selasa (16/9/2025).
Bahlil menjelaskan PLTS dengan kapasitas 100 GW dipandang cukup besar dan tidak sebanding dengan kapasitas industri lokal yang berada di sekitar 5 GW per tahun.
Dengan begitu, kementeriannya akan mencoba mencari pendanaan dari investor asing untuk berkolaborasi dengan perusahaan swasta Indonesia dan PT PLN (Persero) selaku perusahaan pelat merah Indonesia.
Kementerian ESDM sebelumnya menyatakan tengah melakukan sinkronisasi data dengan PT PLN (Persero) dalam rangka persiapan pembangunan PLTS berkapasitas 100 GW dengan memanfaatkan 80.000 Kopdes Merah Putih.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyatakan kementerian sedang mencocokkan data program dediselisasi PLN dan rencana pembangunan PLTS di Kopdes tersebut.
“Ya itu tadi kita baru sinkronkan dengan datanya PLN karena PLN juga ada program dediselisasi. Itu juga masuk PLTS-PLTS-nya kan. Jadi kita hitung juga di situ termasuk yang itu,” kata Eniya kepada awak media di kantor Kementerian ESDM, medio Agustus.
Eniya menerangkan kementerian masih membahas teknis pembangunan PLTS tersebut, termasuk menentukan tipe PLTS apakah akan dalam format tapak (ground mounted) ataupun lainnya.
Dia mengalkulasi pembangunan PLTS tapak dengan kapasitas 1 megawatt (MW) membutuhkan lahan sekitar 1 hektare (ha).
Akan tetapi, dia memandang kebutuhan dan kapasitas pembangkit di tiap Kopdes akan berbeda sebab masing-masing wilayah memiliki kebutuhan dan fasilitas penunjang yang beragam.
Untuk diketahui, dalam bahan paparan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia terungkap bahwa 80.000 koperasi diprediksi menghasilkan listrik 80 GW dan 20 GW sisanya merupakan listrik hasil sentra PLTS kabupaten/kota.
PLTS tersebut nantinya dibangun di 80.000 Koperasi Merah Putih dengan nilai proyek sebesar US$100 miliar. PLTS tersebut rencananya akan dimanfaatkan untuk menyuplai listrik untuk kebutuhan operasional Koperasi Merah Putih dan dalam rangka mendorong percepatan swasembada energi.
(azr/wdh)































