Sebelumnya, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) melaporkan proyek RDMP Balikpapan sudah makin mendekati tahap finalisasi. Saat ini, proyek itu telah memasuki fase persiapan operasional unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC).
Pjs. Corporate Secretary KPI Milla Suciyani mengatakan unit RFCC baru di Kilang Balikpapan ditargetkan dapat mulai beroperasi pada kuartal IV-2025. Unit RFCC yang tengah dipersiapkan beroperasi ini memiliki kapasitas pengolahan hingga 90.000 bph
Melalui teknologi RFCC, residu minyak mentah dapat ditingkatkan nilai tambahnya dengan diolah menjadi produk bernilai tinggi, sekaligus menghasilkan LPG, gasoline, dan propylene sebagai output utama.
"Dengan beroperasinya RFCC Balikpapan ini akan makin menambah kapasitas dan memperkuat kapabilitas KPI sebagai penopang ketahanan energi nasional. Hal ini akan mendukung kemandirian energi nasional karena kilang dapat menghasilkan lebih banyak produk berkualitas tinggi," ujar Milla melalui keterangan resmi, akhir Agustus.
RFCC Kilang Balikpapan akan menjadi unit RFCC terbesar milik Pertamina, melampaui kapasitas unit serupa di Kilang Cilacap yang telah beroperasi sejak 2015 dengan kapasitas 62.000 bph.
Sulit Stop Impor
BMI, lengan riset Fitch Solutions di bawah Fitch Group, sebelumnya meramal Indonesia tetap sulit lepas dari ketergantungan impor migas, sekalipun proyek RDMP Kilang Balikpapan beroperasi.
Menurut BMI, ekspansi Kilang Balikpapan serta upaya pemerintah memacu produksi biofuel mungkin dapat mengubah pola perdagangan bahan bakar minyak (BBM) Indonesia, tetapi ketergantungan pada impor akan tetap ada.
“Indonesia akan mengalami penambahan kapasitas kilang untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade. Terlebih, Pertamina berencana untuk mengoperasikan proyek ekspansi kilang Balikpapan pada kuartal IV-2025,” papar tim riset BM dalam catatannya, baru-baru ini.
Menurut BMI, ekspansi Kilang Balikpapan ini memang bisa membantu meningkatkan swasembada pasokan bahan bakar domestik dan mengurangi impor yang mahal.
“Namun, upaya ini terkendala oleh lambatnya penambahan kapasitas kilang dan kurangnya investasi asing. Ekspansi kapasitas kilang Indonesia terus tertinggal dari pertumbuhan permintaan, sehingga negara ini bergantung pada impor,” terang mereka.
(azr/wdh)





























