Logo Bloomberg Technoz

Angka tersebut mengalami penurunan jika dibandingkan dengan kinerja kredit pada bulan sebelumnya, yakni pada Juni 2025 yang masih sebesar 7,77% (yoy).

"Jadi kita harus lihat dulu masalahnya apa sebenarnya? Masalahnya sekarang justru permintaan kreditnya masih cenderung menurun dan lemah," tutur dia.

"Terus, [masih] ada masalah juga kondisi market kita. [Pemerintah harus jeli melihat] kepercayaan bisnis, kondisi market seperti apa? Jadi harus jelas antara obatnya dengan persoalannya, harus match."

Dorong Belanja K/L 

Untuk memaksimalkan pertumbuhan ekonomi, David justru meminta pemerintah untuk memaksimalkan belanja anggaran Kementerian/Lembaga (K/L) yang saat ini masih belum cukup optimal, seraya memperbaiki iklim investasi.

"Deregulasi, stabilisasi, kepastian hukum, kebijakan yang kredibel. Itu yang paling penting. Kalau likuiditas kan tinggal tugas Indonesia atau pemerintah tadi cara pindahkan uangnya ke BI, dari BI ke uang pemerintah misalnya. Itu bisa dilakukan."

Menkeu Purbaya sebelumnya berencana memindahkan anggaran negara yang selama ini disimpan di Bank Indonesia untuk dialihkan dan ditempatkan ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dengan nominal mencapai Rp200 triliun.

Rencana tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya pemerintah dalam menggenjot pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

"Saya sudah lapor ke Presiden [Prabowo Subianto], saya akan taruh uang ke sistem perbankan. Besok saya taruh Rp200 triliun," ujarnya dalam rapat  dengar pendapat (RDP) bersama Komisi XI DPR di Jakarta, Rabu (10/9/2025).

Purbaya mengatakan, uang yang akan ditarik tersebut berasal dari kas negara yang selama ini di simpan di Bank Indonesia (BI) dengan nilai total mencapai Rp425 triliun.

Nantinya, uang tersebut dapat digunakan perbankan untuk menyalurkan berbagai program pembiayaan, yang juga diharapkan dapat mampu memberikan efek terhadap pertumbuhan ekonomi di kalangan masyarakat.

(lav)

No more pages