Dengan begitu, mekanisme lelang serempak tersebut belum tentu membuat proses lelang yang dilakukan lebih cepat dan menarik lebih banyak peminat.
Dia menegaskan kesiapan pemerintah sebagai penyelenggara lelang akan menjadi penentu proses lelang tersebut.
“Serentak sebanyak itu pun, jika nantinya yang diminati sebagian diantaranya, akan bisa dilelang di periode atau tahapan berikutnya juga itu WK yang belum diminati,” ungkap Pri Agung.
Pasar Minyak
Di sisi lain, penawaran blok migas secara serempak tersebut akan dilakukan ketika pasokan minyak mentah dunia berlebih dan memiliki harga yang lebih rendah.
Pri Agung menilai bahwa sepanjang harga minyak mentah dunia di atas US$50/barel, maka investasi di sektor hulu migas masih akan positif. Namun, dia mewaspadai adanya dampak negatif terhadap minat investasi jika harga crude turun di bawah level tersebut.
“Oversupply akan menambah tekanan ke harga minyak yang memang tertahan di level US$60-an per barel, selama ini karena perlambatan ekonomi dan ketidakpastian ekonomi global akibat tarif Trump,” tegas dia.
Untuk diketahui, OPEC+ mengejutkan pasar awal tahun ini dengan meninggalkan upaya jangka panjang untuk menopang harga, dan memilih untuk memulihkan dominasi dengan serangkaian peningkatan produksi.
Pada Minggu (7/9/2025), kelompok tersebut tetap berpegang pada strategi berani tersebut meskipun ada peringatan bahwa hal itu akan memperparah penurunan harga, dan pada prinsipnya sepakat untuk kembali meningkatkan produksi bulan depan — meskipun dengan jumlah yang moderat, yaitu 137.000 barel per hari (bph).
Tak hanya minyak, pasar global gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) ikut rawan menghadapi kelebihan pasokan selama beberapa tahun mulai 2026, yang berpotensi mendorong harga bahan bakar penting ini ke level terendah sejak krisis energi yang dipicu oleh invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina.
Setelah empat tahun pasar yang ketat, Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan peningkatan produksi LNG terbesar tahun depan sejak 2019.
Sekadar catatan, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan lelang blok migas tidak akan lagi dilakukan secara bertahap, guna mengebut target produksi minyak siap jual setidaknya 900.000 bph pada 2029.
Yuliot mengatakan penawaran blok migas secara serempak tersebut ditargetkan dapat dieksekusi paling lambat pada Oktober. Dia juga menegaskan skema lelang serempak itu akan dilakukan untuk seterusnya; tidak lagi kembali menggunakan mekanisme bertahap.
“Kalau dibuat bertahap seperti itu, ya ini target untuk peningkatan lifting tidak akan tercapai. Jadi ya kita memiliki wilayah yang akan kita tawarkan, [ada] 75 [wilayah kerja/WK]. Seperti di toko, jadi kita pajangkan saja semua,” ujarnya ditemui usai rapat dengan Komisi XII DPR RI, pekan lalu.
SKK Migas melaporkan realisasi lifting migas mencapai 1.557,1 ribu barel setara minyak per hari (mboepd) per semester I-2025. Realisasi lifting pada paruh pertama tahun ini lebih rendah 3,29% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang dipatok 1.610 mboepd.
Lifting migas itu berasal dari realisasi lifting minyak sebesar 578 ribu barel per hari (mbopd), sekitar 95,5% dari target yang dipatok dalam APBN sebesar 605 mbopd.
Sementara itu, salur gas sampai periode yang berakhir Juni 2025 mencapai 5.483 juta standar kaki kubik per hari (MMscfd). Realisasi salur gas itu telah mencapai 97,4% dari target yang tertuang dalam APBN 2025 sebesar 5.628 MMscfd.
(azr/wdh)






























