Logo Bloomberg Technoz

“Dengan kontrak jangka panjang yang biasanya 10 tahun atau lebih, revenue kami relatif stabil dan predictable,” tutur Indra.

Hingga Juni 2025, TOWR mengoperasikan lebih dari 35 ribu menara dan 220 ribu kilometer jaringan fiber. Perseroan menilai konsolidasi operator seluler, ditambah meningkatnya adopsi fixed mobile convergence (FMC) dan potensi 5G, akan terus mendorong permintaan sewa infrastruktur digital.

High barrier to entry di industri ini membuat posisi TOWR cukup aman. Investasi menara itu signifikan, antara Rp800 juta sampai Rp1 miliar per tower, sementara kami sudah memiliki skala ekonomi,” kata Indra.

Pelaku industri jasa pengelola menara telekomunikasi lainnya, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk atau Mitratel (MTEL) juga menganggap kehadiran Starlink hanya pelengkap.

Starlink akan optimal menjangkau daerah Tertinggal, Terdepan dan Terluar (3T), kata Direktur Investasi Mitratel, Hendra Purnama dalam pertemuan dengan rekan media Agustus tahun lalu, dengan menegaskan “Starlink itu lebih ke pelengkap, bukan pengganti.”

Mitratel sendiri dalam pengembangan bisnis berencana merilis 'tower terbang' atau Flying Tower System (FTS), teknologi pesawat tanpa awak bertenaga surya berteknologi High Altitude Platform Station (HAPS) dari anak usaha Airbus, AALTO HAPS Ltd.

Penamaan 'tower terbang' berpangkal dari penggunaan drone yang terbang di ketinggian 20 km di atas laut, dan bisa menaungi area yang cukup luas. Berdasarkan perhitungan MTEL, HAPS mampu menjangkau luas 200 km.  “Justru dengan adanya HAPS bisa mengganti Starlink,” papar Hendra.

(wep)

No more pages