Kinerja pasar modal sepanjang Agustus 2025 menunjukkan perbaikan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 7.830 atau menguat 4,63% secara month-to-date (MtD) dan naik 10,60% secara year-to-date (YtD), dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp14.182 triliun. Pada 28 Agustus, IHSG bahkan sempat mencatat rekor tertinggi di level 8.022,76 dengan kapitalisasi pasar Rp14.377 triliun.
Dari sisi transaksi, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) hingga Agustus tercatat Rp14,32 triliun, lebih tinggi dari bulan sebelumnya Rp13,42 triliun dan melampaui rata-rata tahun 2024 sebesar Rp12,85 triliun.
Secara YtD, angka ini tumbuh 11,42%. Investor asing juga mulai mencatatkan inflow Rp10,96 triliun di bulan Agustus, meski secara YtD masih terjadi net sell Rp50,95 triliun.
Pasar obligasi turut mengalami penguatan, dengan indeks ICBI naik 1,62% secara MtD dan 8,40% secara YtD ke level 425,63. Industri pengelolaan investasi mencatatkan asset under management (AUM) sebesar Rp885,95 triliun atau naik 3,42% MtD dan 5,80% YtD.
Penghimpunan dana di pasar modal mencapai Rp167,92 triliun, naik Rp18 triliun dari bulan sebelumnya, dengan 16 emiten baru menghimpun dana Rp8,49 triliun hingga Agustus.
Pada skema securities crowdfunding (SCF), terdapat 23 efek baru dan 7 penerbit baru selama Agustus, sehingga total penerbit mencapai 541. Di bursa karbon, terdapat tambahan volume transaksi 5.465 ton CO2 ekuivalen sehingga total mencapai 1.604.822 ton CO2 ekuivalen dengan nilai akumulasi Rp78,4 miliar.
OJK juga memperkuat kerangka regulasi melalui penerbitan beberapa aturan baru, di antaranya POJK No. 15/2025 tentang penilaian reksadana dan manajer investasi, POJK No. 14/2025 tentang pelaksanaan rapat umum secara elektronik, serta POJK No. 17/2025 mengenai penawaran efek melalui layanan urun dana berbasis teknologi informasi.
“Dengan fundamental ekonomi yang solid dan komitmen menjaga stabilitas pasar, OJK akan terus memonitor kondisi pasar keuangan serta mengambil kebijakan yang diperlukan,” kata Inarno.
(dhf)























