Logo Bloomberg Technoz

Sejumlah saham mencatat kenaikan luar biasa dan menjadi top gainers. Di antaranya adalah saham PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) yang melejit 34,9%, saham PT Ingria Pratama Capitalindo Tbk (GRIA) dan saham PT Hetzer Medical Indonesia Tbk (MEDS) yang melesat 34,8% dan 33,9% serta saham PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE) juga menguat 25%.

Sedangkan sejumlah saham yang melemah dan menjadi top losers di antaranya saham PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI) yang ambles 12,4%, saham PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST) jatuh 9,86%, dan saham PT Danasupra Erapacific Tbk (DEFI) drop 9,81%.

Pada Jumat sore hari, IHSG (Indonesia) berhasil memimpin penguatan dengan melesat 1,08%. Disusul oleh SETI (Thailand) menguat 0,83%, BSE SENSEX 30 (India) melejit 0,46%, Kospi (Korea Selatan) menguat 0,38%, Weighted Index (Taiwan) terapresiasi 0,35%, dan KLCI (Malaysia) hijau 0,12%.

Shenzhen Comp. China Turun 1,4% pada Rabu 3 September (Bloomberg)

Sementara Bursa Saham Asia lainnya kompak ada di zona merah seperti Shenzhen Comp. (China) terpeleset 1,41%, Shanghai Composite (China) melemah 1,16%, Topix (Jepang) jatuh 1,07%, NIKKEI 225 (Jepang) ambles 0,88%, PSEI (Filipina) melemah 0,75%, CSI 300 (China) merah 0,68%, Hang Seng (Hong Kong) terdepresiasi 0,6%, Straits Time (Singapura) drop 0,21%, dan Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam) kehilangan 0,05%.

Sentimen pada perdagangan Bursa Asia hari ini utamanya datang dari global. Pelaku pasar menghadapi berbagai kegelisahan, mulai dari data ekonomi utama Amerika Serikat hingga tarif perdagangan yang digagas Donald Trump, independensi Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed), kebijakan moneter, serta prospek fiskal global.

Pasar akan memantau data pasar tenaga kerja AS lanjutan yang penting pekan ini, pada Jumat– untuk mendapat petunjuk tentang pertumbuhan ekonomi dan prospek kebijakan The Fed pada sisa tahun 2025.

Pentingnya data ekonomi AS ini akan menentukan arah imbal hasil hingga penutupan pasar– kendatipun banyak hal dapat mengubah persepsi investor tentang kondisi pasar tenaga kerja dalam jangka pendek, sebut Ian Lyngen dan Vail Hartman dari BMO Capital Markets, seperti yang dilaporkan Bloomberg.

Di sisi ekonomi, aktivitas manufaktur AS menyusut pada Agustus selama enam bulan berturut–turut, didorong oleh penurunan produksi yang mencerminkan manufaktur masih terhambat oleh tarif impor yang tinggi.

“Laporan manufaktur ISM menunjukkan sebagian besar perusahaan lebih fokus pada pengelolaan jumlah pekerja daripada merekrut secara aktif,” kata Scott Helfstein dari Global X.

Data-data terbaru ini membuat asa pemangkasan suku bunga acuan kembali meningkat, utamanya pertemuan bulan September ini.

Probabilitas Federal Funds Rate September 2025 (Sumber: CME FedWatch)

Mengutip CME FedWatch Tools, probabilitas Bank Sentral Federal Reserve memangkas suku bunga acuan sebanyak 25 basis poin (bps) ke 4,00–4,25% dalam rapat September melejit ke angka keyakinan 91,7% lebih tinggi dari sebelumnya yang terbilang 88,7%.

Kemudian, Federal Funds Rate diproyeksikan bakal mempertahankan bunga acuan Federal Funds Rate pada rapat Oktober. Peluangnya bertambah menjadi 48,9% lebih tinggi dari probabilitas pemangkasan 3,75–4% pada posisi 47%.

(fad/aji)

No more pages