Logo Bloomberg Technoz

Tahap berikutnya adalah penghalusan permukaan (polishing) sehingga rata, mengkilap, dan mudah dibersihkan. Pada tahap akhir, dilakukan perlakuan dengan bahan kimia atau acid pickling/passivation untuk menghilangkan oksida, residu, serta membentuk lapisan pelindung kromium oksida.

"Namun, titik kritis dari aspek halal muncul pada proses stamping dan forming. Penggunaan pelumas atau cutting oil pada tahap ini sangat penting untuk mengurangi gesekan dan mencegah kerusakan permukaan," kata dia dalam keterangan yang diterima MUIDigital, Senin (1/9/2025).

"Penggunaan bahan ini, meskipun mungkin pada tahap pembersihan di tahap akhir, tetap saja menimbulkan keraguan dari aspek kehalalan," tegasnya.

Selain faktor pelumas, lanjutnya, kualitas stainless steel yang digunakan juga tidak kalah penting. Dia menyebut harus menggunakan baja tahan karat dengan mutu 304 atau 316, karena bisa dikategorikan food grade karena tahan karat dan stabil ketika bersentuhan dengan makanan.

"Termasuk makanan yang bersifat asam. Namun, stainless steel tipe 201 yang lebih murah sering kali dipilih sebagai alternatif. Penggunaan stainless steel 201 berisiko menimbulkan masalah kesehatan," tegasnya.

Dia menilai, steinless steel 201 memang lebih murah, tetapi rentan korosi, apalagi bila bersentuhan dengan bahan asam seperti saus tomat, cuka atau buah-buahan. Dia menjelaskan korosi ini dapat memicu pelepasan logam berat seperti mangan, nikel atau kromium ke dalam makanan.

"Jika kadarnya berlebih, logam tersebut dapat menimbulkan resiko kesehatan, seperti gangguan saraf, hati, ginjal, hingga sistem pernapasan. Oleh karena itu, pemilihan stainless steel grade tinggi yang benar-benar food grade merupakan hal yang tidak bisa ditawar," tegasnya.

(spt)

No more pages