Lebih pendek. 1 tahun mencatat kenaikan 3,2 bps di level 5,358%. Sedang 2 tahunan terapresiasi 3,4 bps di level 5,384%.
Tenor 5 tahun juga mencatatkan kenaikan 4,2 basis poin di level 5,792%. Yield imbal hasil 10 tahun juga bertambah 5,2 bps menjadi 6,411% serta 20 tahun juga naik 5,3 bps ke 6,904%.
Penguatan rupiah hari ini banyak diuntungkan oleh sentimen intervensi Bank Indonesia (BI) yang berhasil meredakan guncangan mata uang Tanah Air.
Erwin Gunawan Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) BI, mengatakan, Bank Sentral akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan kecukupan likuiditas rupiah.
“Bank Indonesia berada di pasar untuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai nilai fundamentalnya melalui mekanisme pasar yang berjalan dengan baik,” paparnya.
Dalam kaitan ini, Bank Indonesia terus memperkuat langkah–langkah stabilisasi, termasuk intervensi NDF di pasar offshore, dan intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, DNDF, dan SBN di pasar sekunder.
Mencermati hal itu, masih terlalu dini untuk menilai secara penuh dampak ekonomi dari kegemparan yang semakin intens dan meluas di seluruh Indonesia.
Tamara Mast Henderson Ekonom Bloomberg Economics menyebutkan, skenario dasarnya adalah krisis sosial politik ini akan berlangsung singkat dan dampak ekonominya tetap terkendali.
“Presiden Prabowo Subianto telah bergerak cepat dengan langkah–langkah spesifik untuk meredakan ketidakpuasan. Ia mencabut kebijakan yang mulanya memicu protes. Lebih jauh lagi, ia berupaya memulihkan kembali kepercayaan publik terhadap pemerintah,” jelas Tamara, Senin.
Langkah ini melengkapi agenda kebijakan luasnya — yang sudah digencarkan untuk secara signifikan mengurangi ketimpangan pendapatan melalui peningkatan belanja di sektor pendidikan, kesehatan, dan perumahan.
Kendati terjadi kegemparan, ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini, Indonesia, mencatat surplus perdagangan bulanan mencapai US$ 4,17 miliar pada Juli, melampaui harapan.
Data Ekonomi RI Solid
Neraca Perdagangan Indonesia pun berhasil mencatat surplus 63 bulan beruntun, sesuai ramalan pasar.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan pada Juli 2025, Indonesia berhasil mencatatkan surplus sebesar US$4,17 miliar, sesuai proyeksi konsensus pasar.
Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia telah mencatat surplus selama 63 bulan beruntun sejak Mei 2020 silam.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menjelaskan surplus pada Juli 2025 ini lebih ditopang oleh surplus pada komoditas non-migas yaitu sebesar US$5,75 miliar. Komoditas penyumbang surplus utamanya adalah lemak dan minyak hewani atau nabati. Kemudian bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
Neraca perdagangan kumulatif Januari–Juli 2025, neraca perdagangan barang mencatat surplus sebesar US$23,65 miliar. Surplus sepanjang Januari hingga Juli 2025 ditopang oleh surplus komoditas non-migas sebesar US$34,06 miliar.
Lebih jauh, Aktivitas Manufaktur Indonesia kembali ke zona ekspansif pada Agustus 2025. Ini menamatkan fase kontraksi yang sebelumnya terjadi selama empat bulan berturut–turut.
Pada Senin pagi tadi, S&P Global melaporkan Aktivitas Manufaktur yang dicerminkan dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) di Indonesia berada di posisi 51,5 untuk periode Agustus. Naik dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 49,2.
Produksi dan pemesanan baru (new orders) naik pada Agustus. Ini menjadi pertumbuhan positif pertama dalam lima bulan.
Permintaan terpantau kuat pada Agustus, baik di pasar domestik maupun ekspor. Untuk ekspor, permintaan bahkan tumbuh dengan laju tercepat sejak September 2023.
Selain itu, BPS juga mengumumkan kinerja perdagangan internasional Indonesia. Neraca perdagangan pada Juli membukukan surplus US$ 4,17 miliar.
Dengan demikian, neraca perdagangan selalu surplus selama 63 bulan tanpa putus. Ini tentu menjadi sentimen positif bagi rupiah mengingat pasokan valas dari sisi perdagangan relatif melimpah.
(fad)






























