"Walaupun memang secara overall di industri perbankan liquidity memang relatif akan membaik di semester ke-II karena tadi saya sampaikan adanya akselerasi dari belanja pemerintah, namun kalau dilihat dari lebih spesifik ke misalnya ke kelompok bank ya memang ada kemudian kelompok bank yang akan memang mengalami persaingan dalam memperebutkan dana," jelasnya.
Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menilai perbankan nasional memiliki fondasi yang kuat dari sisi permodalan, likuiditas maupun kualitas aset, sehingga mampu menghadapi guncangan ketidakpastian ekonomi global.
Dian menyebut per Juli 2025, rasio kecukupan modal (CAR) bank berada di level 25,81%, jauh di atas ketentuan minimum yang ditetapkan regulator. Likuiditas juga terjaga, tercermin dari rasio alat likuid terhadap non-core deposit (AL/NCD) sebesar 119,43% dan alat likuid terhadap DPK (AL/DPK) sebesar 27,08%.
"Kondisi ini menunjukkan perbankan cukup kuat dalam mengantisipasi risiko likuiditas, baik yang berasal dari gejolak pasar global maupun potensi peningkatan kebutuhan pembiayaan domestik," ujarnya dalam keterangan resmi.
Kualitas aset perbankan juga dinilai stabil dengan rasio kredit bermasalah (NPL) pada posisi 2,28% dan Loan at Risk (LaR) turun menjadi 9,68%.
Menurut Dian, perbaikan kualitas aset ini tidak lepas dari strategi perbankan yang lebih selektif dalam menyalurkan kredit, terutama di sektor-sektor dengan prospek ekspor dan permintaan domestik yang masih tinggi.
Meski begitu, OJK tetap meminta bank untuk menjaga prinsip kehati-hatian. Potensi risiko masih bisa datang dari ketidakpastian global, termasuk fluktuasi nilai tukar, harga komoditas hingga tekanan inflasi.
(lav)






























