Logo Bloomberg Technoz

“Selisih yield ini menjadi alasan kuat investor asing meningkatkan eksposur ke Indonesia. Dengan fundamental domestik yang solid, peluang inflow ke pasar obligasi akan semakin besar jika The Fed benar-benar melonggarkan kebijakan moneternya,” tambah Stefanus.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga acuan Fed Funds Rate (FFR) sebanyak dua kali hingga akhir tahun, masing-masing sebesar 25 basis poin (bps). Dengan demikian, total penurunan diproyeksikan mencapai 50 bps, sehingga membawa FFR ke kisaran 3,75%–4,00% dari level saat ini 4,25%–4,50%. 

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, prospek pelonggaran kebijakan moneter The Fed sejalan dengan melemahnya permintaan domestik di AS serta tren inflasi yang terus mereda.

“Kami perkirakan Fed Funds Rate pada semester kedua ini akan turun dua kali. Probabilitasnya semakin tinggi,” ujar Perry dalam Konferensi Pers Hasil RDG-BI, Rabu (20/8).

Pernyataan bernada dovish dari Ketua The Fed, Jerome Powell, dalam simposium Jackson Hole juga memperkuat ekspektasi pemangkasan bunga pada September 2025, sehingga menambah sentimen positif bagi aset berisiko, termasuk emerging market.

Pergerakan spread antara suku bunga domestik dan global menjadi perhatian utama. Saat ini, BI Rate berada di level 5,00%, sedangkan FFR di kisaran 4,25%–4,50%. Jika The Fed memangkas suku bunga sebesar 50 bps tahun ini, spread BI Rate terhadap FFR akan melebar hingga 100–125 bps.

Di sisi lain, daya tarik Indonesia tidak hanya ditopang oleh spread dan yield, tetapi juga oleh ketahanan fundamental ekonomi. Pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 tercatat 5,12% yoy, inflasi stabil di kisaran target BI 2,5±1%, serta nilai tukar rupiah yang relatif terkendali. 

“Dengan pertumbuhan di atas 5%, inflasi terkendali, dan rupiah stabil, Indonesia berada dalam posisi relatif lebih kuat dibanding sejumlah negara emerging market,” ujar Stefanus.

Menurut Stefanus Winarto, kombinasi faktor global berupa potensi penurunan FFR dan fundamental domestik yang solid membuka peluang positif di dua kelas aset utama, yakni obligasi pemerintah dan pasar saham. Penurunan yield global berpotensi meningkatkan permintaan terhadap obligasi Indonesia, menjaga daya tarik imbal hasil sekaligus membuka peluang capital gain seiring ruang penurunan yield lebih lanjut. 

Sementara itu, pada pasar saham, inflow asing berpotensi mendongkrak likuiditas dan valuasi indeks domestik.

“Meskipun demikian, pertumbuhan laba emiten berkapitalisasi besar saat ini masih stagnan dengan kecenderungan menurun. Artinya, keberlanjutan inflow akan sangat bergantung pada perbaikan kinerja emiten ke depan, arah kebijakan suku bunga BI, serta stabilitas sentimen global di tengah tensi perdagangan internasional,” jelas Stefanus. 

Di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, Stefanus menekankan bahwa momentum saat ini paling optimal dimanfaatkan melalui instrumen Reksa Dana khususnya Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT). Reksa dana ini mengalokasikan minimal 80% portofolio pada surat utang, sehingga menawarkan kestabilan imbal hasil dengan risiko lebih rendah dibandingkan saham.

“Dengan potensi inflow asing ke pasar obligasi dan peluang berlanjutnya pemangkasan suku bunga BI, kinerja RDPT dapat terdongkrak. Sehingga, instrumen ini dapat menjadi pilihan dalam portofolio,” tegas Stefanus.

(lav)

No more pages