Logo Bloomberg Technoz

Bank sentral AS masih menghadapi inflasi yang bertahan di atas target 2% — bahkan cenderung meningkat — di saat pasar tenaga kerja menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Situasi ini membuat arah kebijakan moneter semakin sulit diprediksi.

Indeks harga belanja konsumen pribadi (PCE) inti — ukuran inflasi favorit The Fed yang mengecualikan makanan dan energi — diperkirakan naik 2,9% secara tahunan bulan lalu, laju tercepat dalam lima bulan.

“Sekarang pembahasan kemungkinan akan beralih pada seberapa agresif langkah The Fed,” kata Chris Larkin dari E*Trade Morgan Stanley. “Sinyal perlambatan pasar tenaga kerja tampaknya lebih dominan ketimbang kekhawatiran inflasi, namun The Fed belum meninggalkan target 2%.”

Sementara itu di China, investor menantikan apakah reli saham yang didorong oleh likuiditas dapat berlanjut. Indeks acuan CSI 300 mencatat kinerja mingguan terbaik sejak November dan kembali naik 2,1% pada Senin. Saham teknologi masih memimpin penguatan, diikuti saham properti setelah muncul bukti adanya tambahan langkah dukungan dari pemerintah.

Kota Shanghai bahkan melonggarkan aturan pembelian rumah, dalam upaya terbaru otoritas mengatasi krisis properti yang berkepanjangan.

Dari sisi geopolitik, Donald Trump menegaskan bahwa tarif 15% untuk barang asal Korea Selatan tetap berlaku, meski Presiden Lee Jae Myung sempat melobi agar kebijakan tersebut ditinjau ulang dalam pertemuan tatap muka pertama mereka.

Di Wall Street, pasar uang kini memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada September sekitar 80%, dengan total dua kali pemangkasan hingga akhir tahun.

“Jika prediksi kami benar, fokus berikutnya adalah apa yang terjadi setelah September,” ujar Krishna Guha dari Evercore. “Jika data tenaga kerja berikutnya tidak terlalu buruk, kami memperkirakan The Fed akan mulai merancang pemangkasan yang lebih hati-hati, sembari menahan ekspektasi penurunan yang terlalu cepat.”

Investor juga akan mencermati pernyataan pejabat The Fed pekan ini, termasuk Gubernur The Fed Christopher Waller yang dijadwalkan berbicara pada Kamis.

Selain faktor makroekonomi, pasar saham juga menunggu ujian besar lain: laporan keuangan Nvidia. Perusahaan cip raksasa itu — yang menjadi anggota terakhir dari kelompok “Magnificent Seven” yang belum merilis kinerja — akan melaporkan hasil keuangannya pada Rabu malam waktu setempat.

Investor berharap laporan tersebut dapat meredakan kekhawatiran tentang belanja kecerdasan buatan (AI) sekaligus mengonfirmasi bahwa reli saham teknologi bukan sekadar gelembung.

“Kecuali ada kejadian tak terduga, perkembangan terpenting pekan ini adalah laporan keuangan dan proyeksi dari Nvidia,” ujar Matt Maley dari Miller Tabak. “Hasilnya akan bagus. Pertanyaan utamanya adalah apakah cukup bagus untuk mendorong saham lebih tinggi setelah harganya hampir dua kali lipat dalam empat hingga lima bulan terakhir,” tambahnya.

(bbn)

No more pages