“Fakta bahwa investasi luar negeri kini melampaui domestik mencerminkan pasar China yang jenuh serta daya tarik strategis ekspansi global untuk mendapatkan imbal hasil lebih tinggi,” kata Armand Meyer, analis senior Rhodium sekaligus penulis laporan tersebut.
Menurut laporan tersebut, sekitar tiga perempat dari total investasi keluar berasal dari produsen baterai, mencerminkan karakter industri yang padat modal. Produsen besar seperti Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL), Envision Group, dan Gotion High-Tech Co. mengikuti jejak klien mereka seperti Tesla Inc. dan BMW AG ke luar negeri, didorong biaya transportasi yang tinggi serta permintaan rantai pasok lokal.
CATL, produsen baterai EV terbesar dunia, pada Juni lalu menyatakan ekspansi internasional sebagai “prioritas nomor satu” seiring ketatnya persaingan di pasar otomotif domestik China yang mengancam kesehatan industri. BYD Co., produsen mobil listrik terlaris di China, telah memiliki pabrik di Brasil dan Thailand, serta merencanakan fasilitas baru di Turki dan Indonesia. Chery Automobile Co. juga berkomitmen membangun pabrik EV senilai 1 miliar dolar AS di Turki.
Meski demikian, proyek luar negeri cenderung lebih mahal, membutuhkan waktu lebih lama untuk dibangun dan menghadapi risiko politik maupun regulasi yang lebih besar. Menurut Rhodium, hanya 25% proyek manufaktur EV di luar negeri yang selesai, dibandingkan 45% tingkat penyelesaian proyek domestik.
Bulan lalu, BYD menunda tanpa batas waktu rencana pembangunan pabrik besar di Meksiko akibat ketegangan geopolitik dan ketidakpastian terkait kebijakan perdagangan Presiden AS Donald Trump.
Proyek domestik bukan hanya selesai lebih cepat, tetapi juga dimulai lebih awal. Pabrik baterai di China biasanya memulai konstruksi dalam 3 hingga 12 bulan, dibanding 10 hingga 24 bulan di luar negeri, menurut laporan. Svolt Energy Technology Co., produsen baterai berbasis di China utara, bahkan membatalkan 99 persen investasi luar negeri yang diumumkannya.
Ekspansi internasional perusahaan EV dan pemasok China akan berhadapan dengan dinamika permintaan global yang tidak merata terhadap mobil listrik, serta resistensi di pasar seperti Uni Eropa.
Pada saat yang sama, perusahaan juga harus menghadapi kekhawatiran Beijing terkait transfer teknologi, hilangnya lapangan kerja, serta risiko deindustrialisasi, yang bisa memicu kontrol lebih ketat atas arus investasi keluar negeri.
(bbn)































