Hari ini, sepertinya pelaku pasar sedang memasang mode wait and see. Satu yang ditunggu adalah simposium tahunan bank sentral AS Federal Reserve di Jackson Hole, Wyoming.
Pasar mengantisipasi bahwa The Fed bakal lebih dovish. Sepertinya penurunan suku bunga acuan sudah di depan mata.
Sebelumnya, Gubernur The Fed Atlanta Raphael Bostic menyebut dirinya terbuka terhadap penurunan suku bunga acuan. Bostic memperkirakan Federal Funds Rate bisa turun sekali tahun ini.
“Pasar berekspektasi bahwa The Fed akan memberikan nada dovish dalam simposium Jackson Hole,” ujar Priyanka Sachdeva, Analis di Phillip Nova yang berbasis di Singapura, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Namun, Sachdeva juga mengingatkan bahwa ada tendensi inflasi AS bakal ‘memanas’ karena kebijakan tarif Presiden Donald Trump. Ini bisa menjadi faktor penghambat penurunan suku bunga.
Berdasarkan CME FedWatch, peluang penurunan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4-4,25% dalam rapat September adalah 83,6%. Lebih lebih rendah dibandingkan akhir pekan lalu yang sebesar 85,4%.
Sementara kemungkinan suku bunga acuan bertahan di 4,25-4,5% adalah 16,4%. Naik dari posisi akhir pekan lalu yang sebesar 14,6%.
“Saat ini, uang sedang menunggu di pinggir lapangan sampai ada sinyal terbaru,” ujar Nick Twidale, Kepala Analis di ATFX Global Markets yang berbasis di Sydney, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Saat investor cenderung menahan diri dan bermain aman, maka arus modal asing yang masuk ke pasar keuangan negara-negara berkembang menjadi seret. Hasilnya, mata uang Asia pun ramai-ramai melemah, termasuk rupiah.
(aji)





























