Logo Bloomberg Technoz

Manga dan Negara Fiksi yang Disebut Puan di Sidang MPR

Muhammad Fikri
15 August 2025 12:10

Pameran One Piece 'The Great Era of Piracy' di Mall Of Indonesia (MOI) Jakarta, Selasa (7/11/2023). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pameran One Piece 'The Great Era of Piracy' di Mall Of Indonesia (MOI) Jakarta, Selasa (7/11/2023). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Puan Maharani menyinggung sejumlah ungkapan yang kerap digunakan masyarakat dalam melontarkan kritik tentang pemerintah dan situasi negara melalui media sosial. Kritik-kritik tersebut kerap berbalut sebuah nama fiksi yang diambil dari beberapa manga Jepang dan komik Amerika Serikat. 

"Ungkapan tersebut dapat berupa kalimat singkat seperti ‘Kabur Aja Dulu”, sindiran tajam ‘Indonesia Gelap’, lelucon politik ‘negara Konoha’, hingga simbol-simbol baru seperti ‘bendera One Piece’, dan banyak lagi yang menyebar luas di ruang digital. Fenomena ini menunjukkan bahwa aspirasi dan keresahan rakyat kini disampaikan dengan bahasa zaman mereka sendiri,” kata Puan dalam pidatonya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat.

“Dalam demokrasi, rakyat harus memiliki ruang yang luas untuk berserikat, berkumpul, menyatakan pendapat, dan menyampaikan kritik. Kini, kritik rakyat hadir dalam berbagai bentuk yang kreatif dan memanfaatkan kemajuan teknologi, khususnya media sosial sebagai corong suara publik,” kata Puan.


Bagi para pemegang kekuasaan, lanjut dia, semua suara rakyat yang mereka dengar bukanlah sekadar kata atau gambar. Di balik setiap kata ada pesan, di balik setiap pesan ada keresahan, dan di balik keresahan itu ada harapan.

“Karena itu, yang dituntut dari kita semua adalah kebijaksanaan. Kebijaksanaan untuk tidak hanya mendengar, tetapi juga memahami. Kebijaksanaan untuk tidak hanya menanggapi, tetapi merespons dengan hati yang jernih dan pikiran yang terbuka,” ujar Puan.