Serah Terima
Setia mengelaborasi bahwa pada 18 Januari 2025, PT GNI melakukan kebijakan pergantian atau serah terima manajemen perusahaan.
“Kebijakan ini memengaruhi pada istilahnya raw material [pasokan bijih nikel], pemilihan raw material, yang mana manajemen yang baru ini konsen untuk memilih material yang memiliki standar lebih baik, lebih tinggi,” ujarnya.
Sejak pergantian manajemen pada awal tahun tersebut, kata Setia, PT GNI memang melakukan pemangkasan produksi menjadi 30%—40% dari kapasitas terpasang smelter pirometalurgi mereka, atau dari 25 lini produksi menjadi hanya 12 lini yang terpakai.
“Jadi pure sebenarnya masalah itu bukan kenapa-kenapa, bukan tidak kondusif, bukan apa-apa. Bukan karena relaksasi segala macam, bukan. Namun, memang karena adanya manajemen yang baru sekarang ini lebih selektif intinya untuk pemilihan raw material.”
Dalam kesempatan terpisah, Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) mengungkapkan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara berpeluang membentuk konsorsium dengan perusahaan China untuk bekerja sama mengakuisisi aset milik PT GNI.
Anggota Dewan Penasihat Pertambangan APNI Djoko Widajatno mengungkapkan kabar rencana akuisisi smelter GNI oleh Danantara masih terus berkembang. Saat ini badan pengelola investasi tersebut dikabarkan masih menunggu persetujuan pemangku kepentingan dan proses due diligence.
“Proses ini sedang dalam tahap evaluasi dan due diligence, dengan rencana kerja sama bersama MIND ID, induk BUMN pertambangan, sebagai mitra utama dalam akuisisi tersebut,” kata Djoko ketika dihubungi, dikutip Selasa (12/8/2025).
Djoko juga mengungkap terdapat kemungkinan Danantara bekerja sama dengan perusahaan asal China, sebab akuisisi GNI diperkirakan memakan biaya yang cukup besar. Akan tetapi, Djoko belum mendapatkan kabar terbaru perundingan pendanaan dari konsorsium keuangan tersebut.
“Sementara data [informasi] di atas yang kami peroleh, mungkin saja terjadi konsorsium dari China yang akan bekerja sama dengan Danantara,” kata Djoko.
Menurut Djoko, Danantara akan menyiapkan pendanaan awal akuisisi GNI sekitar US$20 miliar. Selain dari Danantara, kata Djoko, pendanaan untuk GNI berasal dari kredit sindikasi senilai US$60 juta untuk mendukung likuiditas jangka menengah.
“Hingga saat ini PT GNI masih resmi berada di bawah Jiangsu Delong Nickel Industry Co., induk perusahaan asal Tiongkok,” Djoko menegaskan proses akuisisi belum rampung.
Adapun, Chief Executive Officer (CEO) BPI Danantara Rosan Roeslani sebelumnya mengonfirmasi tengah membuka peluang mengakuisisi smelter PT GNI. Rencana investasi itu saat ini tengah dikaji.
Rosan menyatakan Danantara memang tengah mengkaji investasi ke proyek hilirisasi serupa. Jika smelter milik anak usaha Jiangsu Delong itu masuk kedalam kriteria investasi, tegasnya, Danantara bisa saja berinvestasi di PT GNI.
“Kan ada beberapa proyek yang on the pipeline yang kita lihat. Ya kita lihat aja kalau yang memang feasible dan memang baik, ya kita kaji semua kok," kata Rosan ketika ditemui di Kementerian ESDM, Selasa (22/7/2025).
PT GNI—yang terafiliasi dengan grup konglomerat Jiangsu Delong — awal tahun ini disebut-sebut telah menunda pembayaran pada pemasok sehingga tidak dapat memperoleh bijih nikel untuk diolah smelter-nya.
Gunbuster, yang mampu mengolah 1,8 juta ton bijih kasar nikel per tahun, dikabarkan telah menutup semua kecuali beberapa dari lebih dari 20 jalur produksinya sejak awal tahun.
Selain akibat tekanan harga nikel yang terus turun, bisnis PT GNI dikabarkan terimbas oleh kejatuhan induk usahanya di China, Jiangsu Delong, akibat gagal bayar utang.
Tak hanya PT GNI, Jiangsu Delong juga menjadi investor di balik proyek hilirisasi nikel di Indonesia yang dikelola PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) dan PT Obsidian Stainless Steel (OSS) di Konawe dan Sulawesi Tenggara.
(azr/wdh)































